Ajakan Taubat Ekologis Menteri Jumhur Dinilai Sangat Tepat

Ajakan Taubat Ekologis Menteri Jumhur Dinilai Sangat Tepat

Nasional | okezone | Senin, 8 Juni 2026 - 21:05
share

JAKARTA - Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menyambut positif ajakan Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat untuk melakukan "taubat ekologis" sebagai respons terhadap berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi Indonesia.

Menurut Toto, istilah taubat ekologis memiliki makna yang lebih kuat dan menggugah dibanding berbagai jargon lingkungan yang selama ini digunakan.

"Ajakan Pak Menteri Jumhur itu patut disambut positif. Momennya sangat tepat," kata Toto, Senin (8/6/2026).

Ia menilai, taubat ekologis merupakan pengakuan kolektif bahwa manusia telah melakukan banyak kesalahan terhadap alam, mulai dari penebangan hutan, eksploitasi sumber daya alam, pencemaran sungai dan laut, hingga alih fungsi lahan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Menurut Toto, berbagai bencana ekologis seperti banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, hingga krisis air bersih merupakan konsekuensi dari perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan.

 

Namun demikian, ia menegaskan, bahwa taubat ekologis tidak boleh berhenti pada slogan atau seruan moral semata.

"Taubat harus dibuktikan dengan perubahan sikap dan tindakan. Tanpa perbaikan kebijakan dan kerja nyata, taubat ekologis hanya akan menjadi slogan yang indah tetapi kosong," ujarnya.

Toto mendorong pemerintah untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam langkah konkret, seperti mengevaluasi izin usaha yang merusak lingkungan, menindak perusahaan pencemar, memulihkan kawasan kritis, serta memperkuat pengawasan terhadap eksploitasi sumber daya alam.

Ia juga mendukung gagasan penanaman dua miliar pohon yang disampaikan Jumhur. Namun, menurutnya, program tersebut harus disertai perencanaan yang terukur, mulai dari jenis pohon yang ditanam, lokasi penanaman, mekanisme perawatan, hingga tingkat keberhasilan pohon yang tetap hidup dalam jangka panjang.

"Keberhasilan penghijauan tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, tetapi dari berapa banyak pohon yang tetap hidup dan memberi manfaat ekologis maupun ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya.
 

Topik Menarik