Intuisi Itu Ilmu, Bukan Sekadar Feeling

Intuisi Itu Ilmu, Bukan Sekadar Feeling

Nasional | sindonews | Jum'at, 29 Mei 2026 - 14:50
share

Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan

Tadi siang, rapat mingguan guru Darunnajah terasa berbeda. Selain pesan nasehat dan evaluasi kegiatan pesantren pekanan.

Serasa seperti perkuliahan filsafat ilmu, mata kuliah yang kami ampu sudah hampir 5 tahu ini.

KH. Hadiyanto Arief, atau biasa kami sapa Ayah Dedy, sedang menjelaskan tentang tacit knowledge dan explicit knowledge.

Istilah ini memang populer di manajemen modern. Tapi beliau membawakan dengan cara pesantren. Sederhana. Mengena.

Beliau bilang, sumber ilmu itu tidak hanya empiris dan rasional.

Ada juga intuisi.Dan intuisi itu dilatih. Bukan datang tiba-tiba. Ia dilatih lewat apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dilakukan oleh para santri setiap hari.

Empiris dan Rasional Saja Tidak Cukup

Selama ini, dunia pendidikan kita sering terlalu sibuk dengan dua hal. Pertama, fakta (empiris). Kedua, logika (rasional). Anak dijejali teori, diuji dengan rumus, dinilai dari angka.

Padahal, masih ada lapisan lain. Lapisan yang tidak bisa diukur dengan kertas dan pensil. Lapisan yang hanya bisa dirasakan. Itulah intuisi.

Di pesantren, intuisi ini dilatih lewat keteladanan. Santri melihat kiainya shalat malam, lalu hatinya tersentuh. Santri mendengar guru membaca Al-Qur’an dengan tartil, lalu ia ingin menirukan. Santri merasakan suasana asrama yang asik, lalu ia betah.

Semua itu tidak masuk dalam kurikulum tertulis. Dan tidak mudah dibuat modulnya. Tidak mudah juga ujiannya. Ujiannya buak esai apalagi pilihan ganda. Ujiannya berupan ketahan dan internalisasi nilai dan justru itu yang membentuk karakter.

Pengetahuan Eksplisit dan Tacit

Dalam ilmu manajemen, pengetahuan eksplisit itu yang tertulis. Buku, modul, jurnal, rumus. Mudah diajarkan, mudah diujikan.

Pengetahuan tacit berbeda. Ia melekat pada pengalaman. Sulit diucapkan, apalagi ditulis. Tapi ia ada. Ia hidup. Ia mengalir dari guru ke murid lewat interaksi sehari-hari.

Ayah Dedy menjelaskan, pesantren itu kaya akan pengetahuan Tacit ini. Para kiai dan guru senior punya pengalaman bertahun-tahun. Mereka tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut. Mereka tahu cara menyambut tamu, cara menenangkan santri yang keluar, cara mengambil keputusan tanpa rapat panjang.

Masalahnya, pengetahuan itu tidak pernah diekspor menjadi pengetahuan eksplisit. Tidak banyak yang ditulis. Tidak diwariskan secara sistematis. Akibatnya, ketika guru senior pensiun atau wafat, ilmunya ikut pergi.

Proses Eksternalisasi Itu Penting

Dalam rapat pekanan itu, Ayah Dedy mengingatkan pentingnya eksternalisasi. Yaitu, mengubah pengetahuan tacit (tersembunyi) menjadi pengetahuan yang bisa diajarkan.Misalnya, seorang guru yang hebat dalam mengelola kelas, diminta menuliskan tips-tipsnya. Bukan sekadar cerita, tapi langkah konkret. Lalu disusun menjadi modul. Lalu dilatihkan ke guru muda.

Inilah yang jarang dilakukan pesantren.

Kita sibuk dengan kegiatan rutin. Sibuk mengaji, sibuk beribadah. Tapi lupa mendokumentasikan kekayaan pengalaman yang ada. Akhirnya, ilmu terputus. Regenerasi terhambat.

Ijtihad Darunnajah: Program Magister dan Doktor Manajemen Pesantren

Nah, di sinilah kami melihat ijtihad besar Universitas Darunnajah.

UDN secara resmi telah membuka Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dengan konsentrasi Manajemen Pesantren. Izinnya keluar melalui SK Kemenag Nomor 1451 Tahun 2025. Dan yang menarik, sebelum SK resmi terbit, sudah ada 20 orang yang mendaftar. Mereka tidak mau ketinggalan. Antusiasmenya tinggi. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ilmu manajemen pesantren itu nyata.

Kuliah perdana MMPI berlangsung pada 8 November 2025. Diikuti 71 mahasiswa. Mereka belajar dari para dosen kompeten, termasuk KH. Sofwan Manaf yang mengajar Leadership, dan kami sendiri mendapatkan kepercayaan membawakan materi Isu-isu Kontemporer Manajemen Pendidikan Islam.

Apa yang diajarkan di program ini? Bukan hanya teori manajemen umum. Tapi bagaimana mengelola pesantren dengan pendekatan modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional. Ini adalah bentuk eksternalisasi. Pengetahuan Tacit para kiai dan pengasuh pesantren, yang selama ini hanya diwariskan secara lisan, kini mulai dirumuskan menjadi kurikulum yang sistematis.Tapi UDN tidak berhenti di situ.

UDN juga tengah menunggu turunnya SK Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam dengan konsentrasi yang sama. Asesmen lapangan sudah dilakukan pada April 2026. Targetnya, lulusan S3 nanti bisa mengembangkan ilmu manajemen pendidikan Islam melalui penelitian berkualitas, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Islam khususnya pesantren di Indonesia.

KH. Hadiyanto Arief dalam sambutannya saat asesmen bilang, pendirian program doktoral ini bukan sekadar penambahan jenjang akademik. Tapi misi ideologis. Universitas Darunnajah akan terus mendidik dengan menjaga kekhasan nilai-nilai pesantren sebagai pondasi utama.

Organisme Pesantren Butuh Sistem Saraf

Dalam kerangka organisme pesantren, proses eksternalisasi ini adalah bagian dari sistem saraf. Ia yang memastikan bahwa informasi mengalir dari satu sel ke sel lain. Tidak hanya di mulut ke mulut, tapi juga tertulis, terdokumentasi, terwariskan.

Tanpa sistem saraf yang baik, organisme akan lambat merespon perubahan. Ia akan mudah lupa. Ia akan kehilangan ingatan kolektif.

Program S2 dan S3 Manajemen Pesantren di UDN adalah upaya membangun sistem saraf itu. Ia mengubah pengetahuan Tacit para kiai menjadi pengetahuan eksplisit yang bisa dipelajari, diteliti, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Inilah yang disebut Ayah Dedy sebagai grand system pesantren: sistem pendidikan, sistem kepengasuhan, sistem kemandirian, sistem kaderisasi, sistem organisasi, sistem dakwah, hingga sistem ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Semua subsistem itu harus dikelola dengan profesional. Dan untuk itu, dibutuhkan SDM yang tidak hanya paham teori, tapi juga menjiwai nilai-nilai pesantren.

Penutup

Kami masih ingat betul pesan Ayah Dedy di akhir rapat. “Jangan hanya sibuk mengajarkan yang tertulis. Tapi juga rawat yang tidak tertulis. Karena di situlah letak kekuatan pesantren.”Betul.

Kita memang butuh kurikulum. Butuh modul. Butuh ujian. Tapi jangan sampai kita melupakan bahwa ilmu yang paling berharga sering datang dari pengamatan, keteladanan, dan keheningan batin.

Itulah intuisi. Itulah ilmu yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun.

Wallahu a‘lam.

---

Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.

Topik Menarik