Tangis Istri Kacab Bank Pecah di Ruang Sidang Ungkap Doa Anak Minta Ayahnya Pulang Sebentar
Istri dari almarhum Kacab bank BUMN Mohammad Ilham Pradipta (MIP), Puspita Aulia dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Senin (11/5/2026). Ia tak kuasa menahan tangis ketika mengingat kembali permintaan dua anaknya soal MIP.
Awalnya, Oditur Militer II-07 Jakarta menanyakan kepada Puspita apakah kedua anaknya telah mengetahui bahwa MIP menjadi korban dugaan pembunuhan dalam perkara yang tengah diadili ini. "Mau menanyakan terkait anak sudah tahu," tanya Oditur.
"Sudah," jawab Puspita.
Baca juga: Sebut Eksepsi Terdakwa Kasus Pembunuhan Kacab Bank Mengada-ada, Oditur Militer Minta Sidang Lanjut ke Pembuktian
"Bagaimana tanggapan mereka terhadap bapaknya yang telah meninggal," kata Oditur.
Puspita tak kuasa menahan tangis, ketika mengingat doa yang dipanjatkan sang anak untuk suaminya usia salat subuh. Sambil menangis, ia mengungkap anaknya berharap sang ayah bisa kembali walau hanya sebentar.
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
"Mungkin tidak secara langsung ya, tapi ada di satu momen adik selesai salat subuh dia berdoa 'Ya Allah ampuni ayah, ya Allah jaga ayah di sana, ya Allah boleh nggak sebentar aja ayah ke sini' kata adik kami," ucap Puspita.
Ia mengaku merasa perih di hati melihat anak-anaknya memendam rasa rindu kepada ayahnya. Sebab, keduanya anaknya begitu dekat dengan suaminya."Itu buat saya sakit karena almarhum suami saya ini sangat dekat dengan anak-anaknya. Jadi mungkin tidak secara langsung mereka mengungkapkan apa yang mereka rasa, tapi dengan apa yang mereka lakukan buat saya paham mereka kecewa ya," ucapnya.
Sekadar informasi, tiga anggota Kopassus didakwa melakukan pembunuhan berencana atas perkara pembunuhan MIP. Para terdakwa yakni Serka Mochamad Nasir (MH-Terdakwa 1), Kopda Feri Herianto (FH-Terdakwa 2), dan Serka Frengky Yaru (FY-Terdakwa 3)
Oditur Militer menduga ketiganya memiliki peran dalam hilangnya nyawa Mohamad Ilham Pradipta.










