Mengapa Amerika Serikat Memblokade Pelabuhan Iran?
Ridwan al-MakassaryDosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)
PADA perang Iran 2026, Selat Hormuz, celah sempit di antara Iran dan Oman, dijadikan alat tawar politik dan kartu penting oleh Iran. Selat tersebut yang dilayari kapal tanker membawa dua puluh persen minyak dunia. Ketika perang berkecamuk, Iran menutup Selat Hormuz dan akibatnya dunia menjerit kencang.
Alasan-alasan Iran menutup selat tersebut adalah harga minyak dunia akan membumbung tinggi, ekonomi Barat akan berdarah-darah, dan Amerika Serikat (AS) akan menghadapi tekanan dalam negeri yang kuat untuk menghentikan perang. Asumsi itu mengharuskan Iran untuk menjual minyaknya, bahkan, ketika selat itu terganggu melalui beberapa kanal: Cina, saluran belakang dan tanker hantu di tengah sanksi ekonomi yang mencekik. Teori sederhananya adalah bagaimana Iran membuat perang menjadi sangat mahal untuk AS sehingga mereka tidak dapat bertahan dan menyerah.
Namun, bagi AS, ketika ia tidak dapat memenangkan perang melalui tank dan rudal dalam waktu singkat, maka pelabuhan menjadi medan tempur baru. Amerika Serikat memutuskan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran pada April 2026. Langkah ini menandai perubahan strategi, yaitu dari serangan militer langsung menuju perang ekonomi total. Jika bom menghancurkan bangunan, maka blokade menghancurkan denyut kehidupan.
Pada praktiknya, AS tidak meminta Iran membuka Selat Hormuz seperti sebelumnya. Bahkan, AS tidak menegosiasikan hal tersebut, namun, ia menyatakan jika Iran memblokade dunia, maka AS memblokade pelabuhan Iran. AS menyatakan blokade diberlakukan terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran yang berlayar melalui teluk Oman, terutama setelah gagalnya negosiasi diplomatik di Islamabad. Washington menyebutnya sebagai tekanan yang sah agar Teheran menerima syarat diplomatik, terutama terkait program nuklir dan perilaku regionalnya. Namun, di balik narasi resmi itu, blokade adalah pesan geopolitik AS ingin menunjukkan bahwa ia masih mampu mengendalikan jalur perdagangan global dan menghukum negara yang menantangnya.
Dari sudut pandang strategis, blokade juga merupakan balasan atas ketegangan di Selat Hormuz. Sebelumnya Iran dituduh menghambat lalu lintas maritim dan memungut biaya lintasan bagi kapal tertentu. Maka, AS menjawab dengan logika simetris bila Iran mengganggu selat, AS akan mengunci pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ini bukan diplomasi, melainkan duel pencekikan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa blokade jarang memiliki konsekuensi tunggal. Ia selalu menghasilkan gelombang dampak yang lebih luas daripada target awalnya. Mengapa pelabuhan menjadi sasaran?
AS mengetahui bahwa ekonomi Iran bertumpu pada ekspor energi dan arus logistik laut. Minyak, petrokimia, logam, pangan impor, suku cadang industri—semuanya bersentuhan dengan pelabuhan. Ketika pelabuhan terblokade, negara Iran seperti kehabisan napas.
Menteri Keuangan AS, bahkan, menyebut tekanan ekonomi itu sedang “mencekik” Iran. Dalam nada yang sama, Mayor Gaurav Arya mengatakan dengan jelas bahwa Iran sekarang menggigil dari dalam. Pernyataan itu bukan sekadar retorika, tetapi pengakuan bahwa tujuan utama Washington adalah memukul ekonomi domestik Iran hingga elite penguasanya menyerah. Pulau Kharg yang menangani 90 ekspor minyak Iran sekarang memiliki kapal tanker yang mengantri tanpa tempat untuk pergi. Penyimpanan Iran hampir penuh dan ketika penyimpanan terisi sepenuhnya, Iran tidak dapat memompa lagi.
Hal tersebut akan memaksa Iran untuk menutup sumur minyak. Dan inilah kenyataan brutal dari penutupan sumur minyak, karena itu tidak seperti mematikan keran. Sedangkan memulai kembali sumur yang tertutup membutuhkan seluruh proses industri bekerja. Harganya ratusan juta dolar sedangkan Iran tidak memiliki uang itu.
Sementara itu, blokade AS itu juga disebut gertakan atas China. Iran tampaknya percaya bahwa China akan menemukan jalan keluar dari tekanan Amerika. Selama masa sanksi, China telah membeli 90 minyak Iran selama perang. Tetapi, blokade Teluk Oman oleh AS menempatkan kapal-kapal China dalam posisi yang sama dengan kapa-kapal negara lain. Jika Cina berani melintasi blokade AS mereka menghadapi Angkatan Laut AS secara langsung.
Tampaknya, ini bukan konfrontasi yang diinginkan Beijing sambil secara bersamaan mengelola ketegangan Taiwan, ekonomi yang melambat, dan negosiasi perdagangan dengan Washington. Singkatnya, China telah secara terbuka menyerukan perdamaian dan tidak ingin terjun langsung ke medan tempur melawan AS.
Memang, blokade AS sangat menyakitkan secara ekonomi. Iran mungkin mencari penyaluran minyak alternatif seperti jalur darat, tetapi itu jauh lebih tidak mudah. AS mungkin juga akan menghalanginya. Proposal perdamaian terbaru Iran menegaskan blokade AS itu berhasil. Setiap posisi negosiasi Iran sebelumnya dimulai dengan tuntutan mencabut kondisi gencatan senjata Lebanon. Dengan menghentikan menyerang Hizbullah, Iran mau duduk dimeja diplomasi.
Namun, proposal terbaru Iran mengatakan untuk mencabut blokade angkatan laut AS atas Pelabuhan Iran dan Iran akan melakukan diplomasi. Hal yang paling mendesak bagi Iran tampaknya bukanlah bom dan rudal, yang sudah berhenti pada 7 April 2026. Tuntutan Iran adalah membuka “blokade atas blokade”. Tekanan ekonomi yang berjalan di USD500 juta per hari adalah apa yang mematahkan posisi Iran. Di pintu keluar Teluk Oman, blokade AS yang tenang, sabar, sedang menghancurkan Iran secara ekonomi.
TAUD Minta Hakim Tak Panggil Andrie Yunus ke Persidangan, Alasannya Masih Proses Pemulihan
Secara keseluruhan, apakah tekanan “blokade atas blockade” semacam ini efektif dan berhasil? Mungkin ini belum tentu menjatuhkan Iran. Kuba telah diblokade puluhan tahun, tetapi rezim tetap berdiri.
Iran sendiri sudah terbiasa hidup dalam tekanan sejak Revolusi Iran 1979. Ia acap membangun kemampuan bertahan melalui ekonomi bayangan, perdagangan gelap, jaringan proksi, dan nasionalisme defensif. Bahkan, tekanan eksternal kerap dipakai rezim untuk menyatukan rakyat di bawah bendera dan slogan perlawanan. Singkatnya, musuh dari luar acap menjadi hadiah politik bagi penguasa di dalam.
Pungkasannya, blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran memperlihatkan satu paradoks bahwa kekuatan besar seperti AS masih percaya bahwa penderitaan ekonomi Iran dapat menggantikan atau memaksanya untuk melakukan diplomasi. Padahal, kelaparan tidak selalu melahirkan kompromi. Justru, ia acap melahirkan kemarahan, dendam dan perlawanan yang konstan.










