Saham Teknologi Berguguran, Kekayaan Elon Musk Anjlok Rp1.449 Triliun
TEXAS, iNews.id - Kekayaan Elon Musk menyusut hingga 80 miliar dolar AS atau setara Rp1.449 triliun (kurs Rp18.118 per dolar AS) pada perdagangan, Kamis (5/11/2026). Penurunan lebih dari 9 persen tersebut terjadi di tengah aksi jual saham perusahaan teknologi setelah pemilihan paruh waktu atau midterm elections Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan perkiraan Forbes, kekayaan bos Tesla itu kembali merosot ke bawah 800 miliar dolar AS. Padahal, Musk baru kembali menyandang status triliuner kurang dari sebulan sebelumnya.
Penurunan kekayaan tersebut dipicu anjloknya saham sejumlah perusahaan teknologi. Saham Tesla tercatat merosot 11,5 persen hingga mencapai level terendah sejak Agustus.
Selain Tesla, saham SpaceX juga turun 8 persen menjadi sekitar 125 dolar AS per saham. Musk diketahui memiliki hampir 50 persen saham perusahaan antariksa tersebut.
Namun, porsi kepemilikan saham Musk yang benar-benar telah menjadi haknya atau vested disebut lebih rendah. Dalam unggahan pada Agustus lalu, dia menyebut sebagian sahamnya baru dapat diperoleh jika SpaceX mencapai hasil yang sangat luar biasa.
Penurunan saham teknologi tidak hanya berdampak pada kekayaan Musk. Sejumlah miliarder lainnya juga mengalami kerugian besar dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes.
Kekayaan CEO Dell Technologies Michael Dell tercatat menyusut 18,6 miliar dolar AS atau setara Rp336 triliun. Sementara itu, kekayaan salah satu pendiri Oracle Larry Ellison berkurang 11,3 miliar dolar AS setara Rp204 triliun, dan CEO Meta Mark Zuckerberg kehilangan 9,4 miliar dolar AS atau setara Rp170 triliun.
Penurunan tersebut membuat Ellison keluar dari daftar 10 orang terkaya dunia. Adapun CEO Nvidia Jensen Huang kehilangan sekitar 15 miliar dolar AS setara Rp271 triliun dan turun dua peringkat dalam daftar miliarder Forbes.
Belanja AI dan Tekanan Politik Jadi Sorotan
Tekanan terhadap saham teknologi sebenarnya sudah muncul sebelum pemilihan paruh waktu AS. Investor mulai mempertanyakan besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta kemampuan investasi tersebut menghasilkan keuntungan.
Goldman Sachs memperkirakan perusahaan teknologi besar AS, termasuk Amazon, Microsoft, Google, dan Meta, akan menghabiskan sekitar 800 miliar dolar AS untuk AI sepanjang tahun ini.
Hasil pemilihan paruh waktu yang didominasi Partai Demokrat kemudian menambah tekanan terhadap sektor tersebut. Kendali Demokrat atas DPR dan Senat diperkirakan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi besar.
Laporan The Wall Street Journal menyebut sejumlah perusahaan telah bersiap menghadapi pemeriksaan Kongres. Mereka bahkan membentuk tim internal dan berupaya membangun hubungan dengan anggota parlemen dari Partai Demokrat.
Kombinasi kekhawatiran terhadap besarnya investasi AI dan potensi pengawasan pemerintah membuat saham teknologi berada di bawah tekanan. Kondisi ini turut menggerus kekayaan sejumlah miliarder yang sebagian besar asetnya terkait dengan perusahaan teknologi.










