Aktivis Luke Susilo Ungkap Dianiaya Orang Tak Dikenal usai Kawal Sidang Ijazah Jokowi
JAKARTA, iNews.id - Aktivis dari gerakan Terus Jadi Anti-Pembual (Terjal), Luke Susilo mengaku menjadi korban penganiayaan oleh dua orang tak dikenal di sekitar Penggilingan, dekat Pengadilan Negeri Jakarta Timur, pada Kamis (5/11/2026) malam. Akibat insiden fisik tersebut, Luke mengalami luka robek di bagian bawah mata hingga harus mendapat penanganan.
Menurutnya, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIB saat Luke hendak pulang menuju Halte Transjakarta Penggilingan usai memantau jalannya persidangan kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dengan terdakwa Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa).
Luke menceritakan, insiden bermula saat dirinya berjalan dan mendengar percakapan keras dari sepasang pejalan kaki, yakni seorang laki-laki dan perempuan, yang membahas ancaman hukuman 12 tahun penjara terkait Pasal 35 UU ITE.
Mendengar hal itu, Luke spontan melempar celotehan mengenai isu makar dan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret nama mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
"Saya tidak menoleh ke belakang, saya hanya bersuara saja 'kalau makar dihukum mati!'. Tiba-tiba bapak itu langsung menghampiri saya dan terjadi konflik verbal," ujar Luke, Sabtu (7/11/2026) malam.
Situasi makin memanas dan Luke mengeluarkan telepon seluler (HP) miliknya untuk mendokumentasikan kejadian tersebut. Terduga pelaku yang panik lantaran enggan direkam berusaha merebut dan membanting HP korban hingga terjadi kontak fisik.
Perselisihan tersebut berujung pada aksi kekerasan fisik di tangga akses menuju halte Transjakarta. Pelaku mencekik leher Luke dan melayangkan pukulan keras ke arah wajah.
"Pukulan itu mengenai bagian bawah mata saya sampai robek. Setelah dianalisis dokter bedah plastik, lukanya hampir mengenai tulang. Beruntung tidak sampai kena tulang, tapi tetap harus dijahit oleh dokter spesialis bedah plastik," kata Luke.
Tak hanya diserang pelaku pria, Luke mengaku mendapat tindakan kekerasan dari pelaku perempuan yang mencengkeram dan mencakar wajahnya hingga meninggalkan bekas luka garukan. Aksi penganiayaan berhenti setelah petugas halte Transjakarta melerai dan memberikan pertolongan pertama kepadanya.
Kendati mengalami penganiayaan fisik, Luke memutuskan tidak melaporkan insiden kekerasan tersebut ke pihak kepolisian. Dia mengaku enggan menghabiskan waktu untuk mengurus proses hukum terhadap orang yang tidak dikenalnya.
"Saya tidak melapor ke polisi karena prosesnya ribet dan memakan waktu. Ini jadi pelajaran bagi kita semua, kalau eskalasi konflik di jalanan sudah memanas, lebih baik mundur. Meski begitu, kejadian ini tidak akan menghentikan saya untuk terus berjuang mengungkapkan kebenaran dengan data valid," katanya.










