Waspada! Anak-Anak Juga Bisa Kena Hipertensi, Ini Penyebabnya

Waspada! Anak-Anak Juga Bisa Kena Hipertensi, Ini Penyebabnya

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 6 November 2026 - 10:46
share

JAKARTA, iNews.id - Hipertensi atau tekanan darah tinggi ternyata bukan hanya menjadi ancaman bagi orang dewasa dan lanjut usia. Anak-anak hingga remaja juga bisa mengalami kondisi yang sama. Bahkan, penyebab hipertensi pada anak bisa berbeda-beda, bergantung pada kelompok usia dan kondisi kesehatannya.

Kondisi ini patut menjadi perhatian para orang tua. Sebab, tekanan darah tinggi pada anak tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan tepat, hipertensi berpotensi mengganggu kesehatan mereka dalam jangka panjang.

Dokter Spesialis Anak dr. Reza Fahlevi, Sp.A, mengungkapkan bahwa hipertensi pada anak terbagi menjadi dua jenis utama, yakni hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Menariknya, kedua jenis tersebut memiliki pola kejadian yang berbeda berdasarkan usia.

Dalam unggahan di akun Instagram @dr_rezafahlevi, dr. Reza menjelaskan bahwa hipertensi sekunder lebih banyak ditemukan pada anak berusia di bawah 6 tahun. Sementara itu, hipertensi primer lebih banyak ditemukan pada anak berusia di atas 6 tahun.

“Ada 2 jenis hipertensi pada anak: hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Pada anak usia <6 tahun, proporsi hipertensi sekunder lebih banyak. Pada anak usia >6 tahun, proporsi hipertensi primer lebih banyak,” tulis dr. Reza, dikutip Jumat (6/11/2026).

Lantas, apa yang membedakan kedua jenis hipertensi tersebut dan faktor apa saja yang bisa memicunya?

1. Hipertensi Primer, Bisa Dipicu Pola Hidup Anak

Hipertensi primer merupakan tekanan darah tinggi yang berkaitan dengan berbagai faktor, terutama gaya hidup dan faktor keturunan. Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada anak yang berusia di atas 6 tahun.

Menurut dr. Reza, kebiasaan sehari-hari yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko anak mengalami hipertensi. Salah satunya adalah konsumsi makanan tinggi natrium atau garam.

Selain itu, obesitas, kurang tidur, stres, hingga riwayat hipertensi dalam keluarga juga dapat menjadi faktor pemicu.

“Yang pertama adalah hipertensi primer. Hipertensi primer ini lebih disebabkan oleh pola hidup. Misalnya makanan tinggi natrium, kondisi obesitas, kurang tidur, stres ya, atau adanya faktor keturunan hipertensi dalam keluarga,” jelasnya.

Karena itu, orang tua perlu mulai memperhatikan kebiasaan makan, aktivitas fisik, hingga pola istirahat anak. Jangan sampai kebiasaan yang dianggap sepele justru meningkatkan risiko gangguan kesehatan sejak dini.

2. Hipertensi Sekunder, Bisa Berawal dari Gangguan Ginjal

Berbeda dengan hipertensi primer, hipertensi sekunder terjadi akibat adanya penyakit atau gangguan medis pada organ tubuh tertentu yang memicu peningkatan tekanan darah.

Dokter Reza menjelaskan bahwa gangguan ginjal menjadi salah satu penyebab yang paling sering ditemukan pada hipertensi sekunder pada anak.

Namun, bukan hanya ginjal. Gangguan hormonal, termasuk kondisi ketika hormon tiroid berlebihan, juga dapat memicu tekanan darah tinggi. Begitu pula dengan masalah pada jantung.

“Dan penyebab kedua adalah hipertensi sekunder. Hipertensi sekunder ini artinya ada penyebab di organ lain yang memicu terjadinya hipertensi pada anak,” terang dr. Reza.

“Penyebab yang paling sering adalah adanya masalah pada organ ginjal. Bisa juga hormonal, misalnya pada kondisi hormon tiroid yang berlebihan, itu juga bisa memicu hipertensi pada anak. Atau masalah pada jantung, ini juga bisa menyebabkan hipertensi pada anak,” tambahnya.

Perbedaan penyebab tersebut membuat hipertensi pada anak tidak bisa ditangani dengan pendekatan yang sama. Dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui faktor yang mendasari peningkatan tekanan darah.

Orang Tua Jangan Abaikan Tekanan Darah Anak

Hipertensi pada anak membutuhkan perhatian khusus karena penyebabnya bisa berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari maupun gangguan organ tubuh. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak menunggu hingga muncul keluhan berat untuk memperhatikan kesehatan anak.

Pemeriksaan tekanan darah dapat menjadi salah satu langkah untuk mendeteksi kondisi tersebut. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter anak agar dapat dilakukan evaluasi lebih lanjut.

Dokter Reza pun mengingatkan pentingnya mencari tahu terlebih dahulu jenis hipertensi yang dialami anak sebelum menentukan penanganan.

“Jadi, kalau anak mengalami hipertensi, harus dikonsultasikan ke dokter anak untuk dicari dulu penyebabnya apakah dia hipertensi primer atau hipertensi sekunder. Sehingga nanti tata laksananya juga lebih terarah dan tepat sasaran,” pungkasnya.

Dengan demikian, hipertensi bukan lagi persoalan kesehatan yang hanya perlu diwaspadai ketika seseorang memasuki usia dewasa. Memperhatikan pola makan, menjaga berat badan, mencukupi waktu tidur, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak sejak dini.

Topik Menarik