Nah, Mantan Jenderal Israel Sebut Negaranya di Ambang Kehancuran

Nah, Mantan Jenderal Israel Sebut Negaranya di Ambang Kehancuran

Terkini | inews | Senin, 2 November 2026 - 10:36
share

TEL AVIV, iNews.id - Pensiunan jenderal memperingatkan, Israel di ambang kehancuran. Israel telah kehilangan legitimasi internasional serta negara-negara sekutu. Selain itu Israel tak akan bisa bertahan dari isolasi dunia berkepanjangan. 

Mayor Jenderal (Purn) Itzhak Brik, dalam artikel opini di surat kabar Maariv, menyebut keadaan sulit yang dihadapi Israel merupakan keruntuhan total, bukan sekadar krisis politik.

Menurut dia, hasil pemilu parlemen pada 27 Oktober sebagai "sertifikat kematian negara Israel". Dia mengkritik pernyataan para pengemat politik Israel yang hanya berfokus pada kursi dan negosiasi koalisi namun mengabaikan masalah yang lebih dalam.

Mantan pemimpin akademi militer yang juga Ombudsman Kementerian Pertahanan untuk Pengaduan Tentara itu melanjutkan, Israel hanya menjadi paria internasional.

"Kita telah kehilangan legitimasi dan sekutu," tulisnya, seraya memperingatkan, Israel tidak bisa terus-terusan terisolasi total untuk waktu lama.

Warga Israel, lanjut dia, mengalami "perang saudara yang senyap", bukan sekadar polarisasi.

Dokter, ilmuwan, pengusaha teknologi, dan profesional terampil lainnya meninggalkan Israel, menguras SDM yang telah terakumulasi selama beberapa dekade.

Dia lalu menuduh para pemimpin politik Israel mengikis supremasi hukum dan lembaga publik, karena cenderung memilih orang berdasarkan loyalitas, bukan kompetensi dan integritas.

Brik juga menyebut pasukan Angkatan Darat Israel mengalami keruntuhan struktural dan penurunan moral. Alasannya, mereka kekurangan kapasitas untuk mempertahankan negara dari ancaman simultan dari dalam dan luar perbatasan.

Selain itu pasukan yang kelelahan tidak akan mampu menghentikan serangan skala besar atau melindungi warga sipil dalam perang regional yang lebih luas.

Brik juga mengatakan, peperangan yang berkepanjangan telah mendorong utang nasional menjadi 1,4 triliun shekel atau sekitar Rp8.094 triliun. Selain itu, sanksi ekonomi, pembatasan senjata, dan isolasi keuangan yang semakin meningkat memperparah tekanan tersebut.

Lebih lanjut Brik menolak usulan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menggunakan mata uang kripto untuk melawan kemungkinan sanksi Eropa sebagai hal naif dan tidak masuk akal. 

Dia memperingatkan memburuknya situasi lebih lanjut dapat mengancam tabungan warga Israel.

Topik Menarik