Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp18.135 per Dolar AS, Analis Ungkap Biang Keroknya

Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp18.135 per Dolar AS, Analis Ungkap Biang Keroknya

Terkini | inews | Senin, 26 Oktober 2026 - 15:56
share

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 55 poin atau 0,30 ke level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (26/10/2026) hari ini.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan rupiah dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Dalam risetnya, Ibrahim menyebut serangan kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran terhadap sejumlah fasilitas di Arab Saudi menjadi salah satu sentimen eksternal yang memengaruhi pasar keuangan.

“Arab Saudi telah mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak (drone) tambahan. Namun, situasi keamanan di sekitar Laut Merah juga memburuk seiring dengan pergerakan kelompok Houthi menuju Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden,” tulis Ibrahim dalam risetnya dikutip Senin (26/10/2026).

Ketegangan tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi keamanan di sekitar Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb juga menjadi sorotan karena jalur tersebut memiliki peran strategis dalam perdagangan dan distribusi energi global.

Di sisi lain, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk merespons perkembangan situasi. Mediator dari Qatar dilaporkan bertolak ke Teheran pada Minggu sebagai bagian dari upaya meredakan konflik yang dikoordinasikan dengan Washington.

Reuters juga melaporkan bahwa pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Iran di Teheran pada Senin untuk membahas koordinasi regional.

Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi hubungan AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Fox News pada Minggu bahwa kini saatnya menentukan apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau mengakhiri situasi tersebut.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa AS tidak akan kembali menyerang jika mengedepankan rasionalitas.

Keputusan The Fed Jadi Sentimen Rupiah

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati agenda ekonomi AS pada pekan ini. Pertemuan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan dimulai Selasa, dengan keputusan kebijakan moneter diumumkan pada Rabu waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia Barat.

Pasar juga menantikan rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, indikator inflasi yang menjadi salah satu acuan The Fed, pada Kamis.

Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar. Perubahan ekspektasi itu selanjutnya dapat memengaruhi arus modal serta tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Harga Minyak Naik, Risiko Defisit APBN Meningkat

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti risiko fiskal akibat kenaikan harga minyak global. Sebagai negara pengimpor neto minyak, Indonesia berpotensi menghadapi peningkatan biaya impor energi ketika harga minyak dunia naik.

Kenaikan harga minyak juga dapat menambah beban subsidi energi dan kompensasi kepada Pertamina. Meskipun penerimaan negara dari sektor migas berpotensi meningkat, tambahan pendapatan tersebut dinilai belum tentu mampu mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama jika harga BBM domestik dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.

Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam analisisnya, Ibrahim menyoroti sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan sejumlah asumsi ekonomi makro, termasuk imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN), nilai tukar rupiah, dan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).

Setiap kenaikan yield SBN sebesar 0,1 poin persentase disebut berpotensi memperlebar defisit APBN sebesar Rp1,9 triliun. Sementara itu, depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS berpotensi menambah defisit Rp800 miliar.

Adapun kenaikan ICP sebesar USD1 per barel disebut dapat memperlebar defisit APBN hingga Rp6,8 triliun.

Ibrahim juga menyoroti harga ICP hingga akhir September 2026 yang disebut telah mencapai USD91,9 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar USD70 per barel.

Tekanan tersebut turut menjadi perhatian karena belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September 2026 telah mencapai Rp376,8 triliun, atau meningkat 54,1 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data yang dikutip dalam analisisnya.

Kombinasi kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan perubahan yield SBN dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif

Dengan mempertimbangkan perkembangan geopolitik, agenda ekonomi AS, serta risiko fiskal domestik, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya.

Dia memprediksi rupiah berpotensi kembali melemah dengan kisaran penutupan Rp18.130 hingga Rp18.180 per dolar AS.

Topik Menarik