Kualitas Udara Memburuk akibat Karhutla, ISPU Sejumlah Daerah Masuk Kategori Berbahaya
JAKARTA, iNews.id - Kualitas udara di sejumlah daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memburuk. Pemantauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah wilayah masuk kategori hitam atau berbahaya, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 di atas 300.
Kondisi tersebut meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap karhutla bagi kesehatan masyarakat. Paparan asap mengandung partikel halus dan berbagai polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan, memperburuk penyakit paru, hingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular pada kelompok rentan.
Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas. Warga juga diminta menggunakan masker apabila harus keluar rumah serta mengurangi masuknya asap ke dalam hunian.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengingatkan pentingnya melindungi kelompok rentan dari paparan asap, termasuk balita dan lanjut usia.
"Kami harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan," ujar Suyanti dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2026).
Masyarakat dapat memantau kualitas udara melalui ISPUnet yang telah terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT. Informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk menyesuaikan kegiatan di luar ruangan dengan kondisi pencemaran udara.
Ratusan Ribu Kasus ISPA Tercatat
Di tengah pencemaran udara akibat karhutla, Kemenkes mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak sejak 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026.
Berdasarkan data per 21 Oktober 2026, sebanyak 75.172 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun atau balita, sedangkan 258.298 kasus lainnya menimpa warga berusia di atas lima tahun. Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Asap karhutla mengandung PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan polutan juga dapat memicu iritasi mata, memperburuk asma dan penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, terutama pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Warga yang mengalami sesak napas atau batuk yang semakin memburuk disarankan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
Kemenkes Siagakan Fasilitas Kesehatan
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat karhutla, pemerintah pusat dan daerah menyiagakan 1.691 puskesmas di wilayah terdampak. Selain itu, tersedia 360 rumah sakit rujukan dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) untuk mendukung penanganan warga.
Pemerintah daerah juga telah menyiapkan 491 rumah oksigen. Kemenkes turut memantau kesiapan tenaga kesehatan, termasuk 18.547 dokter umum dan sejumlah dokter spesialis.
Masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat dapat mengakses layanan Public Safety Center (PSC) 119.










