RSCM Sukses Pisahkan Bayi Kembar Siam Dempet Perut Lewat Operasi 36 Jam

RSCM Sukses Pisahkan Bayi Kembar Siam Dempet Perut Lewat Operasi 36 Jam

Terkini | inews | Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:55
share

JAKARTA, iNews.id – Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta berhasil memisahkan bayi kembar siam laki-laki yang menyatu dari bagian perut hingga panggul melalui operasi kompleks pada 15–16 September 2026. 

Operasi terhadap bayi NA 1 dan NA 2 melibatkan sekitar 14 dokter dari berbagai spesialisasi dan berlangsung dalam rangkaian tindakan selama kurang lebih 36 jam. Seperti apa proses pemisahan bayi kembar siam ini?

Kedua bayi yang lahir pada Desember 2024 itu kini telah memiliki tubuh masing-masing. Setelah menjalani perawatan intensif selama lebih dari sebulan, kondisi keduanya dilaporkan stabil, sehingga dapat dipindahkan dari ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) ke ruang rawat inap biasa pada 19 Oktober 2026.

Ketua tim operasi pemisahan kembar siam RSCM, Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti, Sp.A., Subsp. Neuro, menjelaskan tindakan dilakukan setelah tim medis mengevaluasi kondisi dan anatomi kedua pasien secara menyeluruh.

"Persiapan diperlukan untuk menyusun strategi pembedahan sesuai kondisi anatomi masing-masing anak," jelas dr. Setyo dalam keterangan resminya, Rabu (21/10/2026).

NA 1 dan NA 2 mengalami kembar siam tipe abdomino-ischiopagus, yakni kondisi ketika tubuh kedua bayi menyatu dari bagian perut hingga panggul. Sejumlah organ, seperti jantung, paru, lambung, usus halus, ginjal, dan kandung kemih, masing-masing telah terpisah.

Namun, sebagian hati, vena porta, dan usus besar masih menyatu. Kedua bayi juga berbagi satu lubang anus, dengan tulang panggul yang terhubung serta susunan saluran kemih dan organ genitalia yang kompleks.

Kondisi tersebut membuat operasi membutuhkan perencanaan terperinci untuk memisahkan kedua tubuh sekaligus mempertimbangkan fungsi organ dan kebutuhan penanganan lanjutan. Tim yang terlibat terdiri atas dokter spesialis bedah anak, bedah plastik, ortopedi, urologi, anestesiologi, dan gastrohepatologi.

Prosedur terhadap NA 1 memerlukan waktu sekitar 29 jam, sedangkan tindakan terhadap NA 2 berlangsung selama 23 jam 55 menit. Selama operasi, tim anestesi juga harus menjaga kestabilan kondisi kedua bayi, terutama karena keduanya masih terhubung sebelum pemisahan selesai.

Dokter spesialis anestesi anak RSCM, dr. Andi Ade Wijaya Ramlan, Sp.An-TI, Subsp. An. Ped.(K), mengatakan pemberian obat selama prosedur membutuhkan perhatian khusus.

"Sebelum pemisahan selesai, obat yang diberikan kepada satu bayi berpotensi memengaruhi saudaranya karena keduanya masih terhubung," tutur dr. Andi.

Setelah operasi, kedua bayi menjalani pemantauan intensif untuk mengawasi kondisi klinis, penyembuhan luka, asupan nutrisi, dan kemungkinan komplikasi. Pada 19 Oktober 2026, keduanya dilaporkan tidak mengalami demam dan mulai menerima cairan melalui mulut.

Meski kondisi keduanya stabil, proses pemulihan masih berlangsung. NA 1 memiliki saluran pencernaan yang terhubung hingga usus besar, sedangkan NA 2 hanya memiliki usus halus. Perbedaan anatomi tersebut membuat kebutuhan perawatan dan evaluasi medis keduanya tidak sama.

NA 2 dilaporkan mampu minum lebih cepat dan mengalami kenaikan berat badan yang lebih baik setelah operasi. Sementara itu, tim medis masih memantau fungsi pencernaan, saluran kemih, organ genitalia, serta kondisi tulang dan otot panggul kedua bayi.

Dokter spesialis bedah plastik RSCM, dr. Indri Aulia, menjelaskan bahwa penanganan rekonstruksi perlu mempertimbangkan fungsi tubuh dan kebutuhan jangka panjang pasien.

"Tahapannya dapat berlangsung seiring pertumbuhan kedua anak dan disesuaikan dengan evaluasi medis," ungkapnya.

Penanganan lanjutan mencakup evaluasi untuk menentukan kebutuhan rekonstruksi secara bertahap, termasuk penanganan saluran pembuangan apabila diperlukan. Kedua bayi juga membutuhkan rehabilitasi medik dan pemantauan tumbuh kembang.

Ayah kedua bayi, Christian Agung Yuliyanto, mengatakan dirinya dan sang istri telah mengetahui kondisi kembar siam tersebut sejak usia kehamilan 11 minggu. Setelah lahir di RSCM pada Desember 2024, kedua anak menjalani perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) selama sekitar satu bulan sebelum diperbolehkan pulang.

Sejak itu, keluarga rutin membawa kedua bayi dari Bogor ke Jakarta untuk pemeriksaan dan pemantauan tumbuh kembang. Setelah menunggu sekitar satu tahun sembilan bulan, kedua anak akhirnya menjalani operasi pemisahan pada September 2026.

"Kami sangat berterima kasih untuk Prof, Dokter, Nakes, Direksi dan Management RSCM dan semua yang terlibat yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu," ujar Christian kepada iNews.id.

Dia berharap kondisi kedua anak terus membaik sehingga mereka dapat menyelesaikan proses pemulihan dan kembali ke rumah.

"Sebagai orang tua, kami berharap kedua anak kami segera sehat dan kembali pulang," kata Christian.

Direktur Utama RSCM, dr. Supriyanto, Sp.B., FINACS, M.Kes., menjelaskan bahwa ibu kedua bayi merupakan peserta BPJS Kesehatan. Pembiayaan penanganan dilakukan melalui mekanisme klaim BPJS Kesehatan serta dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) rumah sakit.

Keberhasilan operasi pemisahan ini menjadi tahap penting dalam penanganan NA 1 dan NA 2. Meski telah memiliki tubuh masing-masing, keduanya masih membutuhkan pemantauan medis, rehabilitasi, dan evaluasi lanjutan untuk mendukung pemulihan serta tumbuh kembang mereka.

Topik Menarik