Kisah Prajurit Kopassus Ditertawakan gegara Bermimpi Jadi Jenderal, Buktikan Diri Jabat KSAD
JAKARTA, iNews.id - Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo alias Subagyo HS pernah ditertawakan teman-temannya saat mengungkapkan cita-citanya menjadi jenderal. Namun, ejekan tersebut justru melecut semangatnya untuk membuktikan anak desa juga bisa mencapai pangkat tertinggi di militer.
Impian itu akhirnya terwujud. Subagyo tidak hanya berhasil menembus pangkat perwira tinggi, tetapi juga dipercaya menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus pada 1994-1995. Kariernya mencapai puncak ketika dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 16 Februari 1998.
Kisah tersebut bermula ketika Subagyo masih berpangkat letnan kolonel dan bertugas di lingkungan Kopassus. Suatu hari, dia berkumpul dengan teman-teman lamanya sambil menikmati bakmi goreng di kawasan Kauman, Yogyakarta.
Dalam perbincangan itu, Subagyo mengungkapkan keinginannya menjadi jenderal. Namun, alih-alih mendapat dukungan, dia justru menerima tanggapan sinis dan gelak tawa dari teman-temannya.
“Mendengar itu (cita-cita Subagyo), rekan-rekannya spontan menanggapi dengan nada sinis dibarengi gelak tawa,” kata Carmelia Sukmawati dalam buku Subagyo HS KASAD dari Piyungan, dikutip Selasa (20/10/2026).
Teman-teman Subagyo menilai cita-cita tersebut terlalu muluk. Mereka mengetahui latar belakang keluarga Subagyo yang berasal dari desa dengan kondisi ekonomi sederhana.
Rosil, salah seorang teman Subagyo yang kelak menjadi pengusaha di Yogyakarta sekaligus aktivis Muhammadiyah, mengungkapkan saat itu tidak banyak yang percaya Subagyo mampu mewujudkan impiannya.
“Waktu itu Subagyo sudah sangat yakin dirinya akan bisa menjadi jenderal. Tapi teman-temannya tidak ada yang percaya. Bagaimana mungkin dia bisa mewujudkan impiannya itu, kami tahu latar belakangnya,” kata dia.
Subagyo lahir pada 12 Juni 1946 di Desa Piyungan, Kabupaten Bantul, sekitar 15 kilometer di sebelah timur Yogyakarta. Dia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Yakub Hadi Siswoyo dan Sukiyah.
Saat lahir, namanya hanya Subagyo, tanpa embel-embel Hadi Siswoyo. Nama tersebut memiliki makna tersendiri, yakni su yang berarti lebih dan bagyo yang diartikan sebagai bahagia.
Keluarga Hadi Siswoyo hidup sederhana. Rumah mereka berdinding gedek atau anyaman bambu dengan lantai tanah. Untuk membantu perekonomian keluarga, Sukiyah berjualan di pasar, sedangkan Yakub bekerja sebagai juru penerang di Djawatan Penerangan.
Ejekan teman-temannya sempat membuat Subagyo tersinggung. Dia berharap mendapat dukungan dan doa, tetapi justru dianggap tidak akan mampu mencapai cita-citanya.
Namun, pengalaman tersebut menjadi pemicu semangatnya. Subagyo bertekad membuktikan impiannya bukan sekadar angan-angan.
“Suk, aku dadi bintang papat (besok, aku jadi bintang empat),” kata Bagyo dalam hati.
Karier Menanjak hingga Danjen Kopassus
Tekad Subagyo perlahan terbayar. Setelah mengabdi selama lebih dari dua dekade di militer, lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1970 itu mendapat promosi kenaikan pangkat pada Mei 1994. Saat itu, Kolonel Inf Subagyo resmi menyandang pangkat brigadir jenderal atau bintang satu.
Dia tercatat sebagai lulusan Akabri 1970 pertama yang memperoleh kenaikan pangkat tersebut.
Karier Subagyo semakin menanjak. Pada akhir Agustus 1994, saat menjabat Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi Angkatan Darat (Kadispamad), dia ditunjuk menjadi Danjen Kopassus menggantikan Brigjen TNI Agum Gumelar.
Penunjukan tersebut mengejutkan sejumlah pihak karena nama Subagyo sebelumnya tidak banyak diperhitungkan dalam bursa calon pemimpin Korps Baret Merah.
Bahkan, Subagyo sendiri sempat membayangkan rekan satu angkatannya, Luhut Binsar Panjaitan, yang akan menduduki jabatan tersebut.
“Sewaktu masih kolonel dan menjadi Komandan Grup A Paswalpres (kini Paspampres), Subagyo mendukung Asisten Operasi Kopassus saat itu, Luhut Binsar Panjaitan, untuk menjadi Danjen Kopassus,” kata Carmelia.
Luhut merupakan rekan satu angkatan Subagyo di Akabri 1970 sekaligus peraih Adhi Makayasa. Jika Luhut menjadi Danjen Kopassus, Subagyo berharap dapat memperoleh jabatan sebagai salah satu panglima divisi Kostrad.
Namun, keputusan penempatan justru mengantarkan Subagyo menjadi pemimpin pasukan elite tersebut. Jabatan itu sekaligus menjadi pencapaian penting bagi prajurit yang pernah tumbuh dan berkarier di lingkungan Kopassus, meskipun sebelumnya sempat bertugas di Paswalpres, Bais ABRI, dan Dispamad.
Tembus Bintang 4 Jadi KSAD
Setelah sekitar setahun memimpin Kopassus pada 1994-1995, Subagyo mendapat promosi menjadi Pangdam IV/Diponegoro pada 1995-1997. Pada pertengahan Juni 1997, dia kembali memperoleh kepercayaan dengan ditunjuk sebagai Wakil KSAD.
Promosi tersebut terjadi ketika sejumlah perwira yang pernah bertugas di lingkungan pengamanan Presiden ke-2 RI Soeharto turut mendapat penempatan strategis. Subagyo termasuk di antara perwira yang pernah bertahun-tahun menjadi pengawal Soeharto.
Namun, kedekatan dengan presiden saat itu tidak serta-merta menjamin semua perwira mendapat jabatan lebih tinggi. Salim Said pernah menyinggung hal tersebut dalam buku Wawancara tentang Tentara dan Politik.
“Jangan keliru, tidak semua yang dikenal Pak Harto menjadi orang penting. Karena lewat perkenalan itu Pak Harto berkesimpulan, orang-orang itu tidak bisa diberi beban lebih besar dari yang diberikan ketika mereka berada di sekitar Pak Harto,” kata Salim Said dalam buku ‘Wawancara tentang Tentara dan Politik’.
Puncak karier militer Subagyo tercapai pada 16 Februari 1998. Bertempat di Istana Negara, Jakarta, dia dilantik Soeharto sebagai KSAD menggantikan Jenderal TNI Wiranto yang ditunjuk sebagai Panglima TNI.
Subagyo akhirnya benar-benar meraih pangkat jenderal bintang empat, sesuai dengan cita-cita yang pernah ditertawakan teman-temannya. Dia memimpin Angkatan Darat hingga 20 November 1999.
Presiden Prabowo Subianto yang juga sempat menjabat sebagai Danjen Kopassus mengenang Subagyo sebagai sosok panutan. Prabowo menilai Subagyo memiliki sifat ramah, loyal, setia, serta selalu membela anak buahnya.
“Saya kira tidak keliru kalau orang-orang memberi julukan beliau sebagai Bima. Mungkin tampangnya garang dengan kumis lebat, tapi beliau selalu senyum bahkan ramah dan selalu penuh humor,” kata Prabowo dalam biografinya, Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto.










