Asap Karhutla Capai Jakarta, Lansia Resah hingga Khawatirkan Kesehatan
JAKARTA, iNews.id - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tertiup angin hingga ke wilayah Jakarta menuai keresahan di tengah masyarakat. Sejumlah warga lanjut usia (lansia) di Jakarta cemas lantaran kualitas udara yang memburuk mulai mengganggu aktivitas fisik di luar ruangan.
Mengutip data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui citra satelit Himawari-9, sebaran asap terpantau sudah memasuki sejumlah wilayah Jakarta hingga Jawa Barat, pada Jumat 16 Oktober 2026.
Lina (65), seorang warga Jakarta, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi udara Jakarta yang mulai memburuk. Dia menyebut walaupun polusi juga disumbang oleh faktor lain, tetapi kiriman asap karhutla membuat suasana kian mengkhawatirkan.
"Terganggu. Sebetulnya sih ya jadi waswas juga ya mau keluar. Apalagi di atas usia 65 itu kan tentunya ya harus lebih waspada," ujar Lina di Semanggi, Jakarta, dikutip Senin (19/10/2026).
Kini, dia selalu menggunakan masker saat bepergian keluar rumah untuk mengantisipasi dampak polusi udara tersebut. "Ya kalau diantisipasinya ya kita pakai masker aja sih," katanya.
Hal senada juga dirasakan Hani (64). Sebagai seorang pensiunan yang rutin berolahraga di luar ruangan, dia merasa sangat dirugikan karena pasokan oksigen bersih yang dihirupnya tercemar polusi asap.
"Saya merasa juga terganggu juga. Karena kan yang udara yang saya hirup berarti udara yang bukan oksigen murni. Saya kecewa saja kenapa akhirnya dampak asapnya jauh bisa sampai Jakarta. Walaupun sampai atmosfer ya," katanya.
Dia berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat lebih sigap menindak tegas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap timbulnya karhutla di berbagai daerah.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno meminta masyarakat tetap tenang menyikapi asap karhutla yang terdeteksi memasuki wilayah Jakarta. Dia juga mengingatkan warga menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap dan potensi penularan penyakit.
“Yang pasti kita nggak boleh panik. Ini situasi memang alam sedang seperti ini,” kata Rano, Sabtu (17/10/2026).
Rano turut menyinggung penggunaan teknologi water mist atau penyemprotan air untuk membantu mengendalikan partikel di udara. Metode tersebut sebelumnya pernah digunakan ketika abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masuk ke Jakarta.
Menurutnya, water mist dapat menjadi salah satu langkah pengendalian kualitas udara. Namun, upaya tersebut bukan satu-satunya solusi untuk menghadapi kondisi udara saat ini.










