Kisah Sukses BJ Habibie Perkuat Rupiah saat Krisis 1998, Melesat ke Rp6.500 per Dolar AS

Kisah Sukses BJ Habibie Perkuat Rupiah saat Krisis 1998, Melesat ke Rp6.500 per Dolar AS

Terkini | inews | Senin, 19 Oktober 2026 - 04:17
share

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah kembali berada di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan, Jumat (16/10/2026). Di tengah tekanan terhadap mata uang garuda, pengalaman Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie dalam menghadapi krisis moneter 1998 menjadi salah satu catatan sejarah tentang upaya memulihkan rupiah dan kepercayaan pasar.

Ketika menjabat sebagai presiden menggantikan Soeharto, Habibie mewarisi kondisi ekonomi yang berat. Indonesia menghadapi kontraksi ekonomi, gejolak sektor keuangan, serta pelemahan rupiah yang membuat situasi semakin sulit.

Habibie memang tidak lama memimpin Indonesia. Masa jabatannya berlangsung sekitar 1 tahun 5 bulan, tetapi periode singkat itu diwarnai sejumlah kebijakan untuk menstabilkan perekonomian nasional.

Salah satu capaian yang menonjol terlihat dari perbaikan pertumbuhan ekonomi. Setelah terkontraksi sekitar 13,13 persen pada 1998, ekonomi Indonesia kembali tumbuh positif sebesar 0,79 persen pada 1999.

Pergerakan rupiah juga menunjukkan pemulihan. Pada Juni 1998, nilai tukar rupiah sempat terpuruk hingga sekitar Rp16.650 per dolar AS. 

Dalam beberapa bulan berikutnya, rupiah menguat hingga berada di kisaran Rp6.500 per dolar AS. Menjelang berakhirnya masa pemerintahan Habibie pada Oktober 1999, rupiah bergerak di kisaran Rp8.000 per dolar AS.

Habibie bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi. Dia dikenal sebagai insinyur yang memiliki keahlian di bidang penerbangan. 

Namun, dalam menghadapi krisis, dia menyadari bahwa pemulihan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan angka-angka, tetapi juga membutuhkan kepercayaan masyarakat dan pelaku pasar.

Kepercayaan tersebut menjadi penting karena krisis telah mengguncang sistem perbankan dan mendorong masyarakat menarik simpanan mereka. Ketika kepercayaan terhadap lembaga keuangan melemah, tekanan terhadap perekonomian dan nilai tukar semakin besar.

Salah satu langkah penting pada masa pemerintahan Habibie adalah memperkuat independensi Bank Indonesia. Pemisahan bank sentral dari pemerintah diharapkan membuat kebijakan moneter lebih kredibel dan tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek.

Pemerintah juga menerapkan program penjaminan simpanan masyarakat hingga 100 persen serta menaikkan suku bunga deposito hingga sekitar 60 persen pada periode tersebut. Kebijakan itu ditempuh untuk meredam penarikan dana secara besar-besaran dari perbankan atau rush dan mendorong masyarakat kembali menyimpan uangnya di bank.

Serangkaian langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan stabilitas keuangan dan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Ketika kondisi ekonomi mulai membaik, rupiah pun bergerak lebih stabil dibandingkan saat puncak krisis.

Perbaikan ekonomi turut membuka jalan bagi penurunan angka kemiskinan setelah sebelumnya meningkat akibat krisis. Kisah kepemimpinan Habibie pun menjadi pengingat bahwa penguatan rupiah tidak hanya berkaitan dengan pergerakan pasar, tetapi juga dengan kredibilitas kebijakan dan kepercayaan terhadap lembaga negara.

Topik Menarik