Pemerintah Yaman Tolak Tawaran Iran Mediasi Konflik dengan Houthi
ADEN, iNews.id - Pemerintahan Yaman yang sah menolak tawaran Iran yang siap membantu untuk mengakhiri konflik negaranya bersama Arab Saudi dengan kelompok Houthi. Sebelumnya Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada mitranya dari Mesir, Badr Abdelatty, di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Baghdad, Irak, negaranya siap membantu jika diminta.
Menlu Yaman Afrah Al Zouba menolak tawaran tersebut seraya menuduh Iran ingin menampilkan diri sebagai sosok juru damai. Dia menyebut Iran-lah yang memicu konflik di negaranya dengan mempersenjatai dan membiayai milisi Houthi. Namun kemudian memanfaatkan Yaman sebagai alat tawar-menawar dalam konflik di kawasan.
Dalam tulisan di akun media sosial X judul "Rezim Teheran adalah Pihak dalam Perang terhadap Rakyat Yaman, Bukan Mediator", Al Zouba menilai Iran tak memiliki kredibilitas menjadi mediator konflik yang justru dibuatnya.
"Ketika menteri luar negeri Iran dan para pejabatnya menawarkan 'mediasi' di Yaman, mereka menawarkan mediasi atas perang yang dipicu oleh kudeta milisi teroris Houthi dengan dukungan rezim mereka," kata Al Zouba, seperti dilaporkan kembali Anadolu, Minggu (18/10/2026).
Dia juga menuduh Iran membantu kelompok Houthi dengan rudal, drone, keahlian militer, serta pembiayaan.
Al Zouba mendesak Iran menarik dukungannya terhadap milisi Houthi, menghormati kedaulatan Yaman, serta mematuhi hukum internasional, ketimbang menawarkan mediasi.
Lebih lanjut dia menilai pernyataan Araghchi sebagai provokasi terhadap rakyat Yaman serta keluarga para korban tewas akibat serangan menggunakan senjata asal Iran.
Houthi mengintensifkan serangan ke berbagai wilayah Yaman yang dikuasai pasukan pemerintah, menargetkan istana presiden di Ibu Kota Aden, bandara, mengepung Taiz, menembaki permukiman penduduk, menyerang warga sipil di Marib dan provinsi lainnya, serta menyerang bandara dan fasilitas sipil di Arab Saudi.
Al Zouba juga menuduh Iran memanfaatkan milisi Houthi untuk mengancam perairan internasional dan menggoyahkan keamanan regional.
Usulan mediasi Iran datang saat Houthi terus menolak upaya perdamaian regional dan internasional, termasuk peta jalan yang diajukan Arab Saudi untuk menghidupkan kembali proses politik.
Menurut dia, milisi tersebut memanfaatkan peluang deeskalasi untuk mengumpulkan kembali kekuatan serta persenjataan.
“Semua ini tidak bisa dipisahkan dari upaya rezim Iran untuk menggunakan Yaman sebagai alat tawar-menawar,” katanya.
Al Zouba juga menolak penyebutan oleh Iran bahwa Houthi merupakan “angkatan bersenjata Yaman”. Milisi tersebut sama sekali tidak mewakili Yaman atau memiliki legitimasi untuk mengambil keputusan atas nama rakyatnya.









