Trump Batalkan Siaran Langsung Eksekusi Mati Terpidana Nidal Hasan
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald membatalkan siarang langsung eksekusi mati terhadap terpidana Nidal Hasan pada Desember mendatang. Sebelumnya Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menyatakan, eksekusi mati Hasan oleh regu tembak akan disiarkan langsung dari pangkalan militer Ford Hood, tempat dia melakukan pembunuhan massal pada 2009.
Jika siaran langsung terlaksana, eksekusi tersebut akan menjadi yang pertama di AS disaksikan publik sejak 1936. Sementara hukuman mati menggunakan regu tembak di AS tersebut juga menjadi yang pertama sejaj 1945.
Dalam posting-an di Truth Social, Trump menyebut Hasan sebagai orang sangat jahat dan keji. Dia lalu menuduh pemerintahan mantan Presiden Barack Obama melakukan kegagalan intelijen yang gagal mencegah serangan di pangkalan militer Texas tersebut hingga menewaskan 13 orang.
“Dengan semua itu, saya kira menayangkan eksekusi secara langsung untuk dilihat semua orang, mungkin akan menjadi pencegahan yang kuat bagi dunia untuk menyaksikan bagaimana AS menangani teroris dan sampah masyarakat seperti Hasan, tapi banyak orang yang baik dan bermaksud baik memilih untuk tidak menyaksikan kematiannya, melalui siaran langsung,” tulis Trump.
Meski demikian tak ada perubahan waktu eksekusi Hasan oleh regu tembak.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pekan lalu mengumumkan eksekusi tersebut akan dilakukan secara terbuka.
“Karena orang-orang harus sadar bahwa ada konsekuensi serius untuk hal-hal seperti ini,” kata Hegseth, dalam wawancara dengan tokoh media sayap kanan, Jack Posobiec.
Dia menambahkan eksekusi akan berlangsung pada 3 Desember pukul 13.00 Waktu AS Bagian Tengah, waktu yang sama dengan penembakan pada 2009.
Pengumuman Hegseth tersebut menuai kecaman dari beberapa anggota parlemen, termasuk anggota Partai Republik.
Hal senada disampaikan para pakar hukum. Siaran langsung pembunuhan bisa melanggar hukum AS yang melarang penyiaran materi cabul, tidak senonoh, dan kekerasan. Beberapa pihak berpendapat akan sulit untuk memastikan anak di bawah umur dapat mengakses siaran langsung tersebut.









