Saling Tuduh, Mantan Kepala Badan Intelijen Israel Shin Bet Gugat Netanyahu
TEL AVIV, iNews.id - Mantan kepala badan keamanan dalam negeri Israel Shin Bet, Ronen Bar, menggugat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas pencemaran nama baik.
Gugatan itu diajukan Bar pada Rabu (14/10/2026), beberapa pekan sebelum pemilihan umum (pemilu) parlemen Knesset, dilatarbelakangi perselisihan mereka soal tanggung jawab atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Netanyahu bersikeras dapat menghentikan serangan Hamas jika Shin Bet yang saat itu dipimpin Ronen Bar atau para pemimpin militer lain, membangunkannya pada dini hari menjelang serangan Hamas.
Dalam dokumen pengadilan setebal 134 halaman, Bar menuduh Netanyahu berbohong untuk melindungi diri sendiri. Bar juga menyebut Netanyahu memfitnah dirinya atas tuduhan gagal mencegah atau menangkal serangan tersebut.
Menurut Bar, sebagaimana tertulis dalam gugatan, kebijakan Netanyahu selama beberapa tahunlah yang justru meningkatkan bahaya yang ditimbulkan oleh kelompok perlawanan di Gaza.
Sherly Tjoanda Curhat Kena PHP Kementeriannya Nusron Setahun, Tunggu Kepastian Lahan untuk Petani
Bar mengundurkan diri pada Juni 2025, dengan mengatakan seluruh sistem di badan intelijen itu runtuh dan Shin Bet gagal membunyikan alarm peringatan.
Namun Bar juga menegaskan saat itu, dia mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab sebagai kepala badan intelijen seraya menegaskan telah memperingatkan Netanyahu sebelum 7 Oktober tentang potensi ancaman terkait Hamas.
Dia menegaskan telah menelepon sekretaris militer perdana menteri saat itu setelah muncul tanda-tanda kemungkinan serangan. Dia tidak memiliki nomor telepon Netanyahu sehingga menghubungi sekretaris militer.
Bar menuntut ganti rugi sebesar 3 juta shekel atau sekitar Rp17,3 miliar dari Netanyahu.
Hamas menyerang Israel dalam operasi yang diberi nama Badai Al Aqsa menggunakan pikap dan paralayang. Serangan itu menewaskan 1.221 orang.
Israel membalas dengan menggelar serangan besar-besaran ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 hingga saat ini, yang telah menewaskan lebih dari 74.300 orang. Militer Zionis bahkan terus menyerang Gaza meski di tengah gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.










