95 Penonton Indonesia Percaya YouTube, Ini Datanya!
JAKARTA, iNews.id - YouTube semakin menempati posisi penting dalam keseharian masyarakat Indonesia. Tak hanya menjadi tempat menonton video, platform ini kini juga menjadi rujukan bagi penonton ketika mencari informasi hingga menentukan produk yang akan dibeli.
Hal tersebut terungkap dalam gelaran YouTube Festival 2026 yang berlangsung di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place Mall, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Dalam acara tersebut, YouTube mengungkap hasil riset Kantar yang menunjukkan sebanyak 95 persen penonton di Indonesia menyatakan YouTube sebagai platform video yang paling mereka percayai. Angka tersebut menempatkan YouTube di atas sejumlah platform video dan media sosial lainnya, termasuk TikTok, Facebook, dan Instagram.
YouTube juga disebut sebagai platform video yang paling banyak digunakan setiap hari di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, mengatakan tingkat kepercayaan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama YouTube. Menurut dia, kepercayaan audiens tidak terlepas dari peran para kreator yang secara konsisten membangun hubungan dengan penonton melalui konten.
"Kepercayaan inilah yang menjadi pembeda dan kepercayaan ini bisa tercipta kan karena kreator-kreator yang kerjanya keras banget setiap hari untuk bisa membangun kepercayaan tersebut lewat konten dan kreativitas mereka," kata Veronica dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Menurut Veronica, hubungan antara kreator dan penonton juga semakin erat karena YouTube memberikan ruang bagi kreator untuk menggunakan berbagai format. Mulai dari video singkat melalui YouTube Shorts hingga konten berdurasi panjang atau long-form.
Format tersebut memungkinkan kreator menyampaikan informasi sesuai kebutuhan audiens. Jika Shorts dapat memberikan informasi secara cepat dan ringkas, konten long-form memungkinkan pembahasan yang lebih mendalam.
"Karena memang formatnya macam-macam dan format ini kan jadi ekspresi kreativitasnya juga. Jadi bisa sangat beragam baik dari sisi Shorts yang mungkin bisa lebih sering maupun saya rasa pembedanya juga adalah long-form content itu, karena dia ketika durasinya panjang itu bisa lebih dalam engagement-nya, connection-nya, pemahamannya," ujar Veronica.
Kreator Tak Lagi Sekadar Influencer
Perubahan pola konsumsi konten membuat peran kreator ikut berkembang. Mereka tidak lagi hanya dianggap sebagai sosok yang mengikuti atau menciptakan tren, tetapi mulai dipercaya sebagai sumber informasi sebelum seseorang mengambil keputusan.
Hal tersebut salah satunya terlihat dalam perilaku konsumen ketika mencari informasi mengenai produk.
Veronica mencontohkan pengalamannya saat mencari sepatu untuk mengikuti half marathon. Dia memilih mencari ulasan dari kreator di YouTube karena dapat memperoleh penjelasan yang lebih mendalam mengenai produk.
"Jadi ketika kita mencari misalkan saya kemarin mau half marathon, cari sepatu lari, itu pasti akan mencari YouTube kreator karena dia akan kulik sampai dalam dan dia benar-benar paham, 'Oh ternyata ini yang menjadi apa kenapa saya harus beli brand A bukan brand B' gitu," tuturnya.
Menurut Veronica, pola tersebut menunjukkan kreator mulai menempati posisi sebagai trusted advisor atau pihak yang dipercaya memberikan pertimbangan kepada audiens.
Kedalaman informasi yang diberikan kreator juga membuat YouTube berperan dalam proses discovery atau tahap ketika konsumen menemukan dan mengenal suatu produk.
90 Persen Penonton Terbantu saat Belanja
Tingginya tingkat kepercayaan terhadap YouTube turut berpengaruh terhadap aktivitas belanja. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam YouTube Festival 2026, sebanyak 90 persen penonton di Indonesia menilai YouTube sangat membantu mereka dalam mengambil keputusan berbelanja.
Konten ulasan produk yang dibuat kreator menjadi salah satu faktor yang mendukung proses tersebut. Penonton dapat memperoleh informasi, melihat perbandingan produk, hingga memahami kelebihan dan kekurangan sebelum menentukan pilihan.
"Makanya kepercayaan inilah yang juga akhirnya ketika membuat keputusan belanja itu 90 persen penonton setuju bahwa YouTube itu membantu mereka karena itu menjadi bagian dari discovery," kata Veronica.
YouTube kemudian berupaya memperluas perannya dalam perjalanan konsumen, bukan hanya sampai tahap menemukan produk dan membangun ketertarikan, tetapi juga hingga transaksi.
"Kami menciptakan purchase intent, consideration, sampai ke checkout. Dalam 6 hingga 12 bulan terakhir, kami telah mengenalkan banyak fitur untuk membuat proses ini menjadi lebih seamless. Habis nonton, suka, tinggal klik, selesai," ujar Veronica.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan YouTube Shopping. YouTube mencatat lebih dari 11 juta video telah memanfaatkan fitur tagging YouTube Shopping.
Selain itu, YouTube menghadirkan fitur Open Call yang membantu pemilik brand memberikan brief konten kepada kreator. Ada pula Affiliate Partnership Boost yang ditujukan untuk memperkuat kerja sama antara brand dan kreator.
Veronica mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam posisi YouTube di tengah ekosistem digital.
"YouTube telah berkembang dari platform video streaming menjadi pusat budaya, koneksi, dan perdagangan," pungkasnya.
Pergi Kemana Abu Vulkanik Anak Krakatau setelah Menjauh dari Pulau Jawa? Ini Penjelasannya
Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi dan semakin kuatnya hubungan antara kreator dengan audiens, YouTube kini tidak hanya menjadi tempat mencari hiburan. Platform tersebut juga berkembang menjadi ruang untuk mencari informasi, menemukan produk, mempertimbangkan pilihan, hingga mengambil keputusan pembelian.









