UIN Jakarta Ciptakan TREX-AI, Pendeteksi Ekstremisme Agama di Sosmed

UIN Jakarta Ciptakan TREX-AI, Pendeteksi Ekstremisme Agama di Sosmed

Teknologi | okezone | Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:17
share

JAKARTA - Tim peneliti Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta meluncurkan Model Komunikasi Politik Digital berbasis Trustworthy Explainable Artificial Intelligence (TREX-AI) untuk mendeteksi dini sekaligus memetakan sebaran narasi ekstremisme keagamaan di ruang digital, Rabu (7/10/2026).

Ketua tim peneliti sekaligus Dekan FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Gun Gun Heryanto, mengatakan bahwa riset yang dikembangkan menggunakan metode campuran (mixed method) ini melibatkan 1.500 responden kuantitatif dan pendekatan Focus Group Discussion (FGD) kualitatif di berbagai kota.

Ia menjelaskan bahwa dari uji coba 64 indikator, tim peneliti berhasil memvalidasi 34 indikator utama sebagai dasar pembuatan prototipe aplikasi TREX-AI.

"Dari TREX-AI itu kita bisa mendeteksi percakapan di media sosial dengan data crawling di big data untuk memetakan narasi ekstremisme apa yang muncul hari ini, pekan ini, atau bulan ini," kata Gun Gun Heryanto saat memaparkan hasil risetnya di Ruang Teater Lantai II FIDKOM UIN Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Pakar komunikasi politik itu menerangkan bahwa sistem kecerdasan buatan tersebut tidak hanya membaca teks semata, melainkan juga memetakan persebaran wilayah serta indikator tingkat kerawanannya secara rinci.

"Kemudian bisa kita lihat juga zonasinya di mana narasi itu muncul. Apakah warnanya merah, artinya harus segera dilakukan penindakan. Penindakan itu berupa action yang dilakukan oleh para pihak yang memang terhubung," ujarnya.

 

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberadaan model AI ini dirancang agar tidak menjadi black box atau ruang gelap teknologi, melainkan sebuah sistem akuntabel yang dapat dipertanggungjawabkan. Riset multiyears ini juga ditargetkan dapat melahirkan Digital Religious Extremism Risk Index (DRERI) sebagai acuan pembuat kebijakan pemerintah.

"Jadi Digital Religious Extremism Risk Index ini diharapkan bisa menjadi policy di Kementerian Agama dan Kementerian Komdigi, sekaligus berjejaring dengan BNPT. Terutama yang menjadi sasaran adalah anak-anak muda yang rentan terpapar karena merupakan digital native," tutur Gun Gun.

Adapun tim anggota peneliti riset tersebut terdiri dari dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Rubiyanah, M.A. dan Abdul Azis, M.P., serta dosen UIN Mataram Zaenudin Amruloh, M.A.

Topik Menarik