Kenapa Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Bikin Pesawat Dilarang Terbang?

Kenapa Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Bikin Pesawat Dilarang Terbang?

Teknologi | inews | Selasa, 8 September 2026 - 11:37
share

JAKARTA, iNews.id - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bukan sekadar debu yang membuat langit terlihat keruh. Bagi penerbangan, material ini merupakan salah satu bahaya serius karena dapat mengganggu kinerja mesin pesawat.

Lantas, kenapa abu vulkanik bisa membuat pesawat dilarang terbang? Simak jawaban selengkapnya hanya di artikel ini.

Abu Vulkanik Bisa Masuk ke Mesin Pesawat

Abu vulkanik terdiri atas partikel sangat kecil dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik. Ukurannya yang sangat halus membuat material ini dapat terbawa angin hingga jauh dari gunung api.

Masalah muncul ketika pesawat melintasi wilayah yang mengandung abu vulkanik.

Partikel abu dapat terhisap ke dalam mesin jet. Karena suhu di dalam mesin sangat tinggi, sebagian material kaca vulkanik dapat meleleh dan kemudian menempel pada komponen mesin.

Endapan tersebut dapat mengganggu aliran udara di dalam mesin dan menurunkan kinerjanya. Dalam kondisi tertentu, mesin bahkan bisa kehilangan pembakaran atau flameout, sehingga daya dorong pesawat berkurang atau hilang.

Bukan Hanya Mesin yang Terancam

Bahaya abu vulkanik tidak terbatas pada mesin.

Partikel yang bersifat abrasif juga dapat mengikis permukaan pesawat. Abu dapat merusak kaca kokpit, mengganggu sensor dan sistem pesawat, serta mengurangi kemampuan pilot melihat kondisi di luar pesawat.

Karena itu, keberadaan awan abu di jalur penerbangan harus diperhitungkan meskipun konsentrasinya tidak selalu terlihat dengan mata.

Kenapa Abu Bisa Berada Jauh dari Gunung?

Abu vulkanik dapat terbawa angin mengikuti kondisi atmosfer pada berbagai ketinggian.

Dalam pemantauan 7 September 2026, BMKG mendeteksi abu Anak Krakatau hingga ketinggian 50.000 kaki atau sekitar 15,2 kilometer. Pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, sebarannya telah bergerak ke arah barat hingga barat daya menuju Samudra Hindia.

Artinya, pesawat tidak harus berada tepat di sekitar Anak Krakatau untuk menghadapi ancaman abu.

Lalu, Kenapa Pesawat Harus Dilarang Terbang?

Ketika awan abu terdeteksi berada di jalur penerbangan atau kawasan sekitar bandara, langkah paling aman adalah menghindari wilayah tersebut.

Pada 7 September, BMKG mencatat delapan bandara sempat ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Larangan terbang tersebut bukan berarti pesawat pasti akan mengalami kerusakan jika berada di sekitar abu. Persoalannya adalah risiko tidak bisa diabaikan ketika posisi dan konsentrasi abu berpotensi masuk ke jalur penerbangan.

Apalagi, arah abu dapat berubah mengikuti angin pada ketinggian berbeda.

Abu Vulkanik Berbeda dengan Awan Biasa

Pesawat dapat dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi cuaca, tetapi awan abu vulkanik bukan awan biasa.

Material di dalamnya merupakan partikel padat yang dapat bersifat abrasif dan, ketika masuk ke mesin, dapat menyebabkan kerusakan pada komponen penting.

Karena itu, pemantauan abu vulkanik menjadi bagian penting dalam keselamatan penerbangan saat gunung api mengalami erupsi.

Dalam kasus Anak Krakatau, data satelit dan informasi atmosfer digunakan untuk mengetahui di mana abu berada, seberapa tinggi sebarannya, serta kemana material tersebut bergerak.

Dengan informasi tersebut, jalur penerbangan dapat disesuaikan dan bandara dapat ditutup sementara apabila diperlukan.

Jadi, alasan utama pesawat dilarang terbang saat ada abu vulkanik bukan karena abu menghalangi pandangan, melainkan karena partikel tersebut dapat masuk ke mesin dan mengganggu sistem pesawat.

Bagi penerbangan, menghindari awan abu jauh lebih aman daripada mengambil risiko menembusnya.

Topik Menarik