Begini Skenario Profesor Matematika Israel Bantai dan Usir Ribuan Orang Arab

Begini Skenario Profesor Matematika Israel Bantai dan Usir Ribuan Orang Arab

Terkini | inews | Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:33
share

TEL AVIV, iNews.id - Seorang profesor matematika Israel didakwa merancang serangan teror terhadap ratusan warga Arab yang tinggal di Israel. Tak berhenti pada rencana pembantaian, dia juga disebut ingin memicu eksodus warga Arab dengan mendorong mereka meninggalkan Israel dan wilayah pendudukan Tepi Barat.

Jaksa penuntut Israel mengungkap skenario mengerikan tersebut dalam surat dakwaan terhadap profesor yang mengajar di Universitas Bar-Ilan itu. Rencananya diperkirakan menewaskan 600 hingga 700 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Sang profesor juga disebut ingin mengusir warga Arab ke Yordania, Lebanon, maupun Gaza. Untuk mencapai tujuan itu, serangan dirancang sedemikian rupa agar menimbulkan ketakutan besar dan mendorong warga Arab melarikan diri dari wilayah mereka.

Pria berusia 60-an tahun itu ditangkap pada 17 September dan mengakui dakwaan yang ditujukan kepadanya. Identitasnya dirahasiakan berdasarkan undang-undang Israel yang melarang publikasi identitasnya.

Menurut Kejaksaan Agung Israel, profesor tersebut telah menyusun rencana secara lengkap dan detail selama hampir tiga tahun. Dia bahkan disebut berusaha mendapatkan bantuan dari elemen Angkatan Udara, korps artileri, dan korps lapis baja Israel.

Rencana "Ayit"

Profesor tersebut memberi nama rencananya "Ayit", yang dalam bahasa Ibrani berarti "Elang". Nama itu juga disebut sebagai akronim yang merujuk pada gagasan pengiriman atau pengusiran warga Palestina.

Dia mulai menyusun rencana tersebut pada Februari 2023, setelah terjadinya protes pada 2021 di sejumlah kota Israel dengan populasi campuran Arab-Yahudi.

Untuk mempersiapkan serangan, profesor tersebut memperoleh sejumlah foto udara Kota Bedouin Tuba-Zangariyye di wilayah utara Israel pada Maret 2023.

Dia juga beberapa kali mengunjungi lokasi tersebut untuk mempelajari rute akses dan jalur serangan yang dianggap strategis.

72 Penyerang Disiapkan

Dalam skenario tersebut, 72 penyerang Yahudi bersenjata dibagi menjadi 12 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari enam orang.

Mereka direncanakan menyerang pusat-pusat populasi Arab secara serentak menggunakan senjata api dan kapak, dengan bantuan simpatisan dari kalangan militer.

Rencana itu memperkirakan 600 hingga 700 korban jiwa. Setidaknya separuh dari para penyerang, termasuk sang profesor, juga diwajibkan memiliki izin kepemilikan senjata api.

Dokumen tersebut bahkan menetapkan perempuan dan anak-anak sebagai target serangan.

Serangan Disiarkan Langsung

Tidak hanya merancang serangan fisik, profesor itu disebut memasukkan propaganda dan perang psikologis ke dalam skenarionya.

Serangan direncanakan disiarkan secara langsung melalui media sosial. Tujuannya untuk menimbulkan ketakutan dan mendorong warga Arab melarikan diri dari Israel serta wilayah pendudukan Tepi Barat.

Setelah serangan dimulai, rencana tersebut juga mencakup upaya mengajak tentara, polisi, pemukim Israel, dan pelaku kriminal untuk ikut bergabung.

Libatkan Tokoh Politik

Surat dakwaan juga menyebut sang profesor berusaha merekrut orang-orang berpengalaman dan mendekati tokoh politik penting untuk membantu menjalankan rencananya.

Salah satu tokoh yang didekatinya adalah mantan anggota parlemen dari Partai Likud, Moshe Feiglin.

Faksi Zehut yang dipimpin Feiglin diketahui menjalin kerja sama dengan partai sayap kanan radikal, Zionisme Religius, yang dipimpin Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, menjelang pemilu 27 Oktober.

Jaksa mengatakan Feiglin tidak memberikan tanggapan. Profesor tersebut kemudian diduga berusaha memerasnya agar mau bergabung, sembari menggunakan berbagai cara untuk menyembunyikan rencana tersebut dan mencegahnya terungkap.

Rencana tersebut menargetkan populasi Arab yang jumlahnya cukup besar di Israel. Warga Arab-Israel mencakup sekitar 21 persen dari total populasi Israel yang berjumlah lebih dari 10 juta jiwa.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana, menurut dakwaan jaksa Israel, sebuah rencana tidak hanya diarahkan untuk melakukan pembunuhan massal, tetapi juga menciptakan ketakutan yang dapat memicu pengusiran warga Arab dari wilayah tempat mereka tinggal.

Topik Menarik