Dua Kali Gagal ke Olimpiade, Gloria Widjaja Ungkap Momen Terberat dalam Kariernya
JAKARTA, iNews.id – Pebulutangkis Indonesia Gloria Emanuelle Widjaja mengungkap perjalanan berat dalam kariernya setelah dua kali gagal tampil di ajang Olimpiade. Kegagalan menuju Olimpiade Tokyo dan Paris menjadi salah satu fase paling sulit yang pernah dia lewati sebagai atlet profesional.
Cerita tersebut disampaikan Gloria saat menjadi narasumber dalam program GenZone Talks di iNews Campus Connect 2026 Universitas Tarumanagara (Untar) pada Rabu (30/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Gloria ditanya mengenai cara menghadapi kegagalan, terutama setelah dirinya gagal menembus Olimpiade Tokyo dan kemudian keluar dari tim nasional pada awal 2022.
Gloria mengungkapkan kegagalan menuju Olimpiade bukan hanya terjadi sekali. Dia harus menerima kenyataan pahit setelah dua kali gagal mewujudkan impiannya tampil di ajang olahraga terbesar dunia.
“Aku gagal Olimpiade itu dua kali. Jadi Tokyo dan Paris,” ujar Gloria.
Belajar Bangkit dari Kegagalan
Gloria mengakui kegagalan tersebut menjadi pukulan berat dalam perjalanan kariernya. Terlebih, kegagalan menuju Olimpiade Tokyo terjadi bersamaan dengan keputusan dirinya meninggalkan pelatnas.
Dia mengaku sempat merasa kecewa terhadap dirinya sendiri karena belum mampu mencapai target yang sudah lama diperjuangkan.
“Jadi pada saat itu pun ya kecewa, benar-benar aku juga kecewa sama diri aku sendiri, kecewa dengan banyak hal yang aku enggak bisa dan aku enggak tahu harus bagaimana,” tutur Gloria.
Namun, seiring waktu berjalan, Gloria mulai memahami jika kegagalan merupakan bagian dari perjalanan seorang atlet. Dia menyadari seseorang tidak selalu bisa berada di posisi terbaik meski sudah memberikan kemampuan maksimal.
“Dan ternyata gagal itu juga enggak apa-apa,” kata Gloria.
Menurut Gloria, pengalaman kalah bukan sesuatu yang asing selama menjalani karier sebagai atlet bulutangkis. Bertahun-tahun mengikuti pertandingan membuat dia sering menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan.
“Bertahun-tahun waktu pertandingan selalu kalah, selalu kalah, selalu kalah, jatuhnya aku gagal nih, aku gagal. Tapi aku coba lagi, coba lagi,” ujar Gloria.
Kegagalan tersebut justru membentuk mental Gloria untuk terus mencoba. Dia memilih tidak menganggap kegagalan sebagai akhir perjalanan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
“Aku sudah komitmen dengan diri aku sendiri untuk aku masih bisa kok, aku belum selesai kok di bulutangkis ini,” kata Gloria.
Gloria percaya selama seseorang masih memiliki kesempatan dan kemauan untuk bangkit, peluang untuk melanjutkan perjuangan tetap terbuka.
“Selagi kesempatan, selagi aku masih mau coba bangkit, kesempatan itu pasti akan ada terus,” lanjutnya.
Selain kekuatan dari dalam diri, Gloria juga menyebut dukungan keluarga menjadi faktor penting saat melewati masa sulit. Keluarganya tidak memberikan tekanan ketika dirinya mengalami kegagalan dalam karier olahraga.
Pengalaman gagal dua kali menuju Olimpiade akhirnya menjadi bagian penting dalam perjalanan Gloria memahami arti perjuangan. Dia memilih menjadikan kegagalan sebagai proses pembelajaran untuk kembali melangkah dan membuktikan dirinya.










