Perang Iran-AS Bisa Berakhir Tahun Ini? Ini Jawaban Presiden Pezeshkian
NEW YORK, iNews.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian merespons kemungkinan segera berakhirnya perang melawan Amerika Serikat (AS) yang telah berlangsung 7 bulan. Dia menegaskan Iran tidak ingin perang terus berlanjut, namun menyerahkan keputusan kepada AS.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat menjawab pertanyaan jurnalis Fox News mengenai apakah konflik Iran-AS mungkin berakhir sebelum akhir tahun ini.
"Kami tidak ingin melanjutkannya (perang). Amerika-lah yang harus memilih, apakah ingin mengakhiri ini atau tidak," kata Pezeshkian, seperti dikutip Sabtu (26/9/2026).
Pezeshkian menegaskan Iran terbuka terhadap kemungkinan mengakhiri konflik. Namun, dia juga menyatakan keputusan tersebut bergantung pada sikap AS. Iran, kata dia, telah menyiapkan segala skenario termasuk jika perang berlanjut.
Sebelumnya, Pezeshkian juga menyampaikan sikap Iran terkait dialog dengan AS dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Rabu (23/9/2026).
Dia menegaskan Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan AS. Meski demikian, Teheran tetap membuka pintu dialog dan negosiasi selama proses tersebut tidak dilakukan dengan ancaman ataupun kekerasan.
"Kami tidak akan pernah menundukkan kepala," ujar Pezeshkian, dalam pidatonya.
Dia juga menyoroti perlakuan tidak adil terhadap Iran terkait isu nuklir. Dia membandingkan posisi Iran dengan Israel yang diketahui memiliki senjata nuklir, tetapi tidak menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT).
Menurut Pezeshkian, Iran justru menghadapi pemeriksaan dan sanksi terkait program nuklirnya.
"Mereka (Israel) membunuh, (tapi) kami yang dikenai sanksi, kami yang dihukum," katanya.
Pezeshkian kembali menegaskan Iran tidak membuat senjata nuklir. Namun, dia menyatakan negaranya memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan tuduhan keras terhadap Iran. Dalam forum yang sama, Trump menyebut Iran sebagai sponsor terorisme nomor satu.
Pezeshkian kemudian membantah tuduhan tersebut dan memberikan respons tegas.
"Kami bukan teroris, kami adalah korban terorisme," ujarnya.
Pernyataan Pezeshkian menunjukkan bahwa Teheran menyatakan keinginan untuk mengakhiri perang, tetapi pada saat yang sama tetap menolak tekanan dan ancaman dari Washington.
Kini, kemungkinan berakhirnya konflik Iran-AS bergantung pada perkembangan sikap kedua negara, terutama terkait syarat dialog, isu nuklir, dan tuntutan masing-masing pihak.










