Apa Itu Super Flu alias Influenza A (H3N2) Subclade K yang Kini Menyerang Indonesia?

Apa Itu Super Flu alias Influenza A (H3N2) Subclade K yang Kini Menyerang Indonesia?

Gaya Hidup | inews | Kamis, 24 September 2026 - 13:31
share

JAKARTA, iNews.id - Istilah Super Flu belakangan ramai digunakan untuk menyebut Influenza A(H3N2) Subclade K, termasuk setelah virus tersebut ditemukan di Indonesia.

Namun, apakah Super Flu merupakan jenis influenza baru dan apakah infeksi virus ini lebih berbahaya dibandingkan flu musiman biasa? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.

Apa Itu Super Flu?

Secara medis, Subclade K bukan virus influenza baru. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa virus ini merupakan bagian dari virus influenza musiman A(H3N2) yang mengalami sejumlah perubahan genetik.
Subclade K berasal dari subclade J.2.4 dan kemudian diklasifikasikan sebagai subclade K berdasarkan perubahan pada protein hemaglutinin (HA).

Dengan demikian, istilah Super Flu lebih tepat dipahami sebagai sebutan populer, bukan nama penyakit atau klasifikasi medis baru.

Apakah Super Flu Lebih Berbahaya?

Pertanyaan mengenai tingkat bahaya Subclade K muncul karena virus ini memiliki sejumlah perubahan genetik dibandingkan virus A(H3N2) sebelumnya.

Namun, hingga saat ini belum ada bukti bahwa Influenza A(H3N2) Subclade K menyebabkan penyakit yang lebih berat.

Kemenkes sebelumnya menegaskan bahwa berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, Subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade atau subclade influenza lainnya. Gejala yang muncul juga umumnya serupa dengan influenza musiman.

WHO juga menyatakan data epidemiologi yang tersedia tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit akibat Subclade K. Meski demikian, virus tersebut tetap dipantau karena merupakan hasil evolusi dari virus influenza A (H3N2).

Apa Gejala Super Flu?

Karena masih merupakan bagian dari influenza musiman A(H3N2), gejala yang muncul pada infeksi Subclade K pada dasarnya dapat menyerupai flu pada umumnya.

Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

* Demam yang muncul secara tiba-tiba
* Batuk
* Sakit tenggorokan
* Pilek
* Sakit kepala
* Nyeri otot atau persendian
* Tubuh terasa lemas atau tidak enak badan

WHO menyebut sebagian besar orang yang mengalami influenza dapat pulih dalam waktu sekitar satu minggu tanpa membutuhkan perawatan medis khusus. Namun, batuk dapat berlangsung lebih lama, bahkan dua minggu atau lebih.

Siapa yang Perlu Lebih Waspada?

Meski Subclade K tidak terbukti lebih ganas, influenza tetap dapat menyebabkan penyakit berat pada kelompok tertentu.

WHO menyebut risiko penyakit berat akibat influenza lebih tinggi pada kelompok rentan. CDC juga memasukkan anak-anak, terutama yang masih sangat kecil, orang berusia 65 tahun ke atas, ibu hamil, serta orang dengan kondisi medis tertentu sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi.

Influenza pada kelompok berisiko dapat berkembang menjadi komplikasi seperti pneumonia dan dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah dimiliki seseorang. Pada kasus berat, influenza juga dapat menyebabkan komplikasi serius lainnya.

Data Kemenkes di Indonesia menunjukkan kelompok anak memang cukup banyak ditemukan dalam kasus Subclade K. Dari seluruh kasus yang tercatat sepanjang 2025 hingga minggu ke-36 tahun 2026, kelompok usia 0-4 tahun menyumbang 38 persen kasus, disusul usia 5-9 tahun sebesar 23,4 persen dan usia 10-17 tahun sebesar 21,2 persen.

Kasus Super Flu di Indonesia hingga 19 September 2026

Kemenkes mencatat 184 kasus Influenza A (H3N2) Subclade K sepanjang 2025 hingga minggu ke-36 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di 20 provinsi.

Pada minggu ke-36, proporsi influenza secara keseluruhan memang mengalami peningkatan menjadi 46 persen dari 35 persen pada minggu sebelumnya. Namun, Kemenkes menyatakan tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah.

Artinya, keberadaan Subclade K di Indonesia tidak serta-merta menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi wabah influenza yang lebih berbahaya.

WHO sendiri terus memantau perkembangan virus tersebut, termasuk perubahan karakteristik virus, pola penyebaran, serta dampaknya terhadap keparahan penyakit. 

Topik Menarik