Super Flu Menyebar di Indonesia, Kenali Gejala dan Tanda Bahayanya

Super Flu Menyebar di Indonesia, Kenali Gejala dan Tanda Bahayanya

Gaya Hidup | inews | Kamis, 24 September 2026 - 13:57
share

JAKARTA, iNews.id - Influenza A (H3N2) Subclade K yang belakangan populer disebut 'Super Flu' telah ditemukan di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 184 kasus Subclade K sepanjang 2025 hingga minggu ke-36 tahun 2026 yang tersebar di 20 provinsi.

Di tengah temuan tersebut, masyarakat perlu mengenali gejala dari infeksi Super Flu dan mengetahui tanda-tanda ketika infeksi membutuhkan pemeriksaan dokter. Simak informasi selengkapnya.

Secara medis, Subclade K merupakan bagian dari virus influenza A (H3N2), bukan jenis influenza baru yang berdiri sendiri. Karena itu, gejalanya dapat menyerupai influenza musiman pada umumnya.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), gejala influenza biasanya muncul secara tiba-tiba. Beberapa gejala yang umum terjadi meliputi demam, batuk yang umumnya kering, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, pilek, serta rasa lelah atau tidak enak badan yang cukup berat. Batuk juga dapat berlangsung selama dua minggu atau lebih.

Gejala Super Flu yang Perlu Diperhatikan

Berbeda dengan pilek biasa yang cenderung muncul secara bertahap, Super Flu umumnya menimbulkan gejala secara lebih mendadak.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Demam atau tubuh terasa menggigil
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Pilek atau hidung tersumbat
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot atau seluruh tubuh
  • Tubuh terasa sangat lelah
  • Pada sebagian orang, muntah dan diare, terutama pada anak-anak

Namun, tidak semua orang yang terkena influenza mengalami demam. Karena itu, tidak adanya demam bukan berarti seseorang pasti terbebas dari influenza.

WHO menyebut sebagian besar penderita influenza dapat pulih dari demam dan gejala lainnya dalam waktu sekitar satu minggu tanpa membutuhkan perawatan medis khusus. Meski demikian, influenza juga dapat menyebabkan penyakit berat, terutama pada kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.

Kapan Harus ke Dokter?

Orang yang mengalami gejala flu tidak selalu harus langsung ke rumah sakit. Pada kasus ringan, WHO menganjurkan istirahat, mencukupi kebutuhan cairan, dan mengurangi kontak dengan orang lain untuk mencegah penularan.

Namun, pemeriksaan medis diperlukan apabila gejala semakin berat atau muncul tanda-tanda komplikasi. WHO secara khusus menganjurkan kelompok berisiko tinggi dan orang dengan gejala berat untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat antara lain anak-anak berusia di bawah lima tahun, orang berusia 65 tahun ke atas, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru, ginjal, hati, diabetes atau kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah.

Bagi kelompok tersebut, konsultasi dengan dokter sebaiknya dilakukan lebih awal ketika mengalami gejala influenza karena obat antivirus dapat memberikan manfaat paling besar jika diberikan sedini mungkin. WHO menyebut terapi antivirus idealnya diberikan dalam 48 jam sejak gejala mulai muncul pada kelompok yang membutuhkan.

Waspadai Tanda Bahaya pada Orang Dewasa

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada sejumlah tanda bahaya yang mengharuskan seseorang segera mendapatkan pertolongan medis.

Pada orang dewasa, tanda tersebut antara lain:

  • Kesulitan bernapas atau sesak napas
  • Nyeri atau tekanan yang menetap di dada atau perut
  • Pusing terus-menerus, kebingungan, atau sulit dibangunkan
  • Kejang
  • Tidak buang air kecil
  • Nyeri otot yang sangat berat
  • Tubuh sangat lemah atau tidak stabil saat berdiri atau berjalan
  • Demam atau batuk yang sempat membaik kemudian kembali atau justru semakin parah
  • Kondisi penyakit kronis yang sebelumnya dimiliki menjadi semakin buruk

Tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan adanya komplikasi atau kondisi yang membutuhkan penanganan segera.

Waspadai Gejala Berat pada Anak

Orang tua juga perlu lebih waspada ketika anak mengalami gejala influenza.

CDC menyebut beberapa tanda bahaya pada anak, antara lain napas cepat atau kesulitan bernapas, bibir atau wajah tampak kebiruan, tulang rusuk tertarik ke dalam ketika bernapas, nyeri dada, nyeri otot berat hingga anak menolak berjalan, serta tanda dehidrasi seperti tidak buang air kecil selama sekitar delapan jam, mulut kering, atau tidak mengeluarkan air mata saat menangis.

Anak yang tidak responsif atau sulit berinteraksi ketika terjaga, mengalami kejang, mengalami demam yang sangat tinggi dan tidak terkendali dengan obat penurun demam, atau mengalami perbaikan gejala yang kemudian kembali memburuk juga perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

Bagaimana Kondisi Super Flu di Indonesia?

Kemenkes mencatat 184 kasus Influenza A(H3N2) Subclade K di Indonesia sepanjang 2025 hingga minggu ke-36 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di 20 provinsi.

DKI Jakarta tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, disusul Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Kasus Influenza A (H3N2) Subclade K di Indonesia. (Foto: Kemenkes)

Kemenkes juga mencatat proporsi influenza pada minggu ke-36 meningkat menjadi 46 persen dari 35 persen pada minggu sebelumnya. Dari 185 spesimen yang diperiksa, ditemukan 86 kasus positif influenza, terdiri atas delapan kasus Influenza A(H3N2), 76 kasus Influenza A(H1N1pdm09), dan dua kasus Influenza B Victoria.

Meski terdapat peningkatan proporsi influenza, tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah, menurut data Kemenkes hingga minggu ke-36.

Artinya, masyarakat tidak perlu menganggap setiap gejala flu sebagai kondisi darurat. Namun, gejala yang berat, memburuk, atau disertai tanda bahaya tetap perlu mendapatkan perhatian medis.

Topik Menarik