Gerindra Ungkap Visi Prabowo Ingin Jadikan Indonesia Petarung Global
JAKARTA, iNews.id - Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso mengungkap visi Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadikan Indonesia sebagai petarung global di tengah perubahan tata dunia yang semakin kompetitif.
Sugiat menyebut, cara pandang Prabowo berangkat dari kondisi global yang semakin multipolar. Dalam situasi tersebut, setiap negara dinilai semakin mengutamakan kepentingan nasionalnya masing-masing.
"Itu cara berpikir Pak Prabowo. Bahwa ada situasi global yang itu harus kita sikapi sebagai sebuah bangsa," ucap Sugiat dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Isu Panas Program Prioritas' yang disiarkan di iNews, Selasa (22/9/2026).
Sugiat menambahkan, Indonesia perlu memperkuat fondasi nasional agar mampu menghadapi persaingan di tingkat internasional.
"Oleh karena itu, apa yang akan dilakukan Pak Prabowo terkait ketika dia menjadi pemimpin Indonesia di 2024? Dia ingin Indonesia ini menjadi petarung global," kata dia.
Dia menjelaskan, salah satu langkah awal yang dilakukan Prabowo adalah memperkuat ketahanan pangan. Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan dapat menjadi kerentanan ketika terjadi krisis global.
"Yang pertama harus diamankan oleh sebuah negara konsolidasi pangan. Sementara sebelum Pak Prabowo menjadi presiden, kita tergantung ke impor, bahkan beras pun kita tergantung ke Vietnam sama Cina," ujarnya.
Sugiat menuturkan, ketergantungan tersebut perlu dikurangi agar Indonesia memiliki ketahanan pangan ketika dunia menghadapi krisis.
"Bagaimana mungkin ketika nanti suatu saat ada terjadi krisis pangan global, kita masih tergantung dengan impor dalam konteks pangan, bagaimana nasib rakyat Indonesia?" tuturnya.
"Sekarang dalam dua tahun pemerintahan Pak Prabowo yang itu seharusnya waktunya agak lebih lama, tapi alhamdulillah kita sudah menuntaskan satu per satu yang menjadi syarat Indonesia menjadi negara maju," tuturnya.
Selain pangan, Sugiat menyebut ketahanan energi sebagai fondasi lain untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global. Dia mencontohkan pengembangan energi alternatif melalui program B50.
Adapun B50 merupakan bahan bakar nabati campuran solar yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit (FAME) dan 50 persen solar fosil.
"Begitu juga dengan ketahanan energi. Lucu sekali misalnya Indonesia adalah negara yang paling luas kebun sawitnya, tapi kita bisa kelangkaan minyak goreng, kita bisa kelangkaan energi. Sementara ada alternatif energi yang bisa kita manfaatkan, itulah program B50," katanya.
Sugiat juga menyoroti hilirisasi sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat daya saing nasional. Menurut dia, pembangunan infrastruktur juga tidak hanya berkaitan dengan proyek fisik, tetapi mencakup infrastruktur sosial.
"Kalau selama ini infrastrukturnya tidak menyangkut infrastruktur sosial seperti yang dijelaskan oleh Bang Dahnil tadi, berapa banyak misalnya renovasi sekolah, rumah sakit, jembatan desa, dan lain sebagainya, itu angka-angka yang sangat spektakuler," ujarnya.
Di sisi lain, pembangunan sumber daya manusia disebut menjadi perhatian penting Prabowo. Sugiat menilai pembangunan manusia merupakan fondasi agar Indonesia mampu menghadapi persaingan global.
"Bahwa Indonesia berdiri untuk membangun manusia, bukan membangun walaupun itu bagian dari kebutuhan kita kenapa tidak membangun jalannya, membangun gedungnya, tapi membangun jiwanya dan membangun badannya," ucap Sugiat.









