Diet atau Kardio, Mana Lebih Efektif untuk Menurunkan Lemak Tubuh?
JAKARTA, iNews.id - Diet atau kardio sering menjadi pilihan bagi orang yang ingin menurunkan berat badan. Banyak orang memperbanyak olahraga seperti jogging, jalan cepat hingga latihan interval dengan harapan kalori yang terbakar dapat membantu mengurangi lemak tubuh.
Namun, olahraga bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Pola makan justru memiliki peran besar dalam menciptakan defisit kalori yang menjadi kunci dalam proses penurunan lemak tubuh.
Dikutip dari Verywell Health, pola makan dan kardio sama-sama berperan dalam proses fat loss. Meski demikian, mengatur asupan kalori biasanya lebih efektif untuk menciptakan defisit kalori dibandingkan hanya mengandalkan olahraga.
Penurunan lemak terjadi ketika tubuh berada dalam kondisi defisit kalori, yaitu saat energi yang digunakan lebih banyak dibandingkan energi yang masuk melalui makanan.
Mengurangi sekitar 400 hingga 500 kalori dari asupan harian melalui pilihan makanan dinilai lebih mudah dipertahankan dibandingkan harus berolahraga setiap hari untuk menciptakan defisit kalori dalam jumlah yang sama.
Pasalnya, makanan berkalori tinggi dapat memberikan energi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sebagai gambaran, jogging selama sekitar 30 menit dapat membakar sekitar 200 hingga 300 kalori.
Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan kalori dari segenggam besar kacang-kacangan. Karena itu, mengandalkan olahraga untuk membakar seluruh kalori yang dikonsumsi bisa menjadi tantangan.
Pola makan juga dapat membantu mengontrol rasa lapar. Memilih makanan tinggi protein dan serat dapat membuat tubuh merasa kenyang lebih lama sehingga membantu seseorang mempertahankan pola makan sesuai target.
Meski demikian, bukan berarti kardio tidak penting. Aktivitas seperti latihan kardio membantu meningkatkan total energi yang dikeluarkan tubuh.
Semakin aktif bergerak, semakin banyak energi yang digunakan selama aktivitas. Kardio juga dikaitkan dengan peningkatan fleksibilitas metabolik, yakni kemampuan tubuh menggunakan karbohidrat maupun lemak sebagai sumber energi.
Latihan aerobik secara rutin juga dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Sementara itu, latihan intensitas tinggi atau HIIT dapat memberikan tambahan pembakaran energi setelah olahraga melalui proses yang dikenal sebagai afterburn effect.
Lantas, mana yang lebih baik antara diet dan kardio? Alih-alih memilih salah satu, menggabungkan keduanya dapat memberikan manfaat yang lebih lengkap dalam upaya menurunkan lemak tubuh.
Kombinasi pengaturan pola makan dan olahraga dapat membantu mempertahankan massa otot sekaligus menargetkan lemak tubuh. Orang yang menggabungkan diet dan olahraga juga cenderung lebih mampu mempertahankan penurunan berat badan dalam jangka panjang dibandingkan hanya mengandalkan diet.
Olahraga juga memberikan ruang lebih fleksibel dalam pola makan karena sebagian energi yang masuk dapat diimbangi dengan aktivitas fisik. Selain itu, aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan suasana hati dan menjaga konsistensi menjalani pola hidup sehat.
Menurunkan lemak tubuh tidak hanya berkaitan dengan mengurangi makanan dan memperbanyak aktivitas. Latihan kekuatan juga penting karena membantu membangun serta mempertahankan massa otot.
Selain olahraga dan pola makan, tidur selama tujuh hingga sembilan jam juga perlu diperhatikan. Tidur yang cukup membantu mengatur hormon yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang.
Stres juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Stres kronis dapat meningkatkan kadar kortisol yang dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi distribusi lemak tubuh.
Pada akhirnya, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih penting dibandingkan perubahan ekstrem yang sulit dipertahankan. Memperhatikan asupan protein, memperbanyak aktivitas sehari-hari, cukup minum, dan mengurangi makanan ultra-proses dapat menjadi bagian dari pola hidup untuk menjaga komposisi tubuh.









