Jangan Cuma Hitung Durasi Tidur, Jam Bangun Tak Kalah Penting
JAKARTA, iNews.id - Tidur yang cukup selama ini sering dikaitkan dengan berapa lama seseorang beristirahat pada malam hari. Namun, selain durasi, waktu mulai tidur dan waktu bangun ternyata juga menjadi bagian penting dari pola tidur yang perlu diperhatikan.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Adam Prabata, menyoroti penelitian ilmiah yang menganalisis hubungan antara waktu tidur dan risiko kematian. Penelitian tersebut berjudul Association of sleep timing with all-cause and cardiovascular mortality: the Sleep Heart Health Study and the Osteoporotic Fractures in Men Study.
Melalui utas di akun Threads miliknya, dr Adam membagikan temuan penelitian tersebut. Dia bahkan mengaku mulai memperhatikan waktu tidurnya setelah membaca hasil penelitian.
“Gue berusaha tidur sebelum tengah malam setelah baca jurnal ini,” tulis dr Adam, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Menurut dr Adam, penelitian yang menganalisis kebiasaan tidur masyarakat di Amerika Serikat menemukan adanya hubungan antara waktu tidur yang terlalu larut dan peningkatan risiko kematian dari berbagai penyebab.
"Ada penelitian yang menganalisis kebiasaan tidur di Amerika Serikat. Nah ternyata hasilnya menarik, yaitu kebiasaan tidur setelah tengah malam (Jam 00:00) meningkatkan risiko kematian hingga 53 persen lebih tinggi," katanya.
Bangun Kesiangan Juga Dikaitkan dengan Risiko Kesehatan
Tidak hanya waktu mulai tidur, waktu bangun juga menjadi perhatian dalam penelitian tersebut. Kebiasaan bangun terlalu siang, khususnya setelah pukul 08.00, dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi.
"Hasil menarik lainnya adalah kebiasaan bangun telat (diatas jam 08:00) juga meningkatkan risiko kematian hingga 39 persen lebih tinggi," tambah dr Adam.
Temuan ini menunjukkan bahwa pola tidur tidak semata-mata mengenai jumlah jam yang dihabiskan seseorang untuk tidur. Waktu tidur dan bangun juga menjadi bagian dari pola yang berkaitan dengan kesehatan.
Berkaitan dengan Jam Biologis Tubuh
Waktu tidur dan bangun berhubungan dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Sistem ini membantu tubuh mengatur siklus tidur dan bangun serta berbagai proses fisiologis lainnya.
Ketika seseorang terbiasa tidur sangat larut dan bangun jauh lebih siang, pola tersebut dapat membuat ritme sirkadian tidak selaras dengan aktivitas sehari-hari. Dalam jangka panjang, pola tidur yang tidak teratur juga dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan.
"Kebiasaan tidur tengah malam ini berhubungan dengan beberapa penyakit kronis, sehingga meningkatkan risiko kematian," ujarnya.
Meski demikian, temuan penelitian tersebut tidak boleh diartikan bahwa tidur setelah tengah malam atau bangun setelah pukul 08.00 secara langsung menyebabkan kematian.
dr Adam mengingatkan bahwa penelitian yang dibahas bersifat asosiasi. Dengan kata lain, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pola waktu tidur dan risiko kematian, tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
“Yang perlu diingat adalah penelitian ini sifatnya asosiasi, bukan penyebab langsung kematian. Namun hasilnya tetap perlu dicermati dan jadi pengingat untuk menjaga pola tidur lebih baik," katanya.
Sebab itu, menjaga kesehatan tidur tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah jam tidur. Memiliki jadwal tidur dan bangun yang konsisten serta menyesuaikannya dengan kebutuhan tubuh menjadi bagian penting dari pola tidur yang sehat.










