Bangun Kesiangan Bukan Cuma Bikin Ngantuk, Ini yang Terjadi pada Tubuh

Bangun Kesiangan Bukan Cuma Bikin Ngantuk, Ini yang Terjadi pada Tubuh

Gaya Hidup | inews | Senin, 14 September 2026 - 23:25
share

JAKARTA, iNews.id - Bangun kesiangan bukan cuma membuat tubuh terasa berat dan mengantuk sepanjang hari. Kebiasaan menggeser waktu tidur dan bangun juga berkaitan dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang mengatur berbagai fungsi penting.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Adam Prabata, menyoroti temuan penelitian yang menganalisis hubungan antara waktu tidur, waktu bangun, dan risiko kematian. Penelitian tersebut berjudul Association of sleep timing with all-cause and cardiovascular mortality: the Sleep Heart Health Study and the Osteoporotic Fractures in Men Study.

Melalui utas di akun Threads miliknya, dr Adam membagikan sejumlah temuan dari penelitian tersebut. Salah satunya mengenai kebiasaan bangun terlalu siang.

"Hasil menarik lainnya adalah kebiasaan bangun telat (diatas jam 08:00) juga meningkatkan risiko kematian hingga 39 persen lebih tinggi," tambah dr Adam.

Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara waktu bangun dengan kondisi kesehatan. Namun, angka tersebut tidak dapat dimaknai bahwa seseorang yang bangun setelah pukul 08.00 secara otomatis akan mengalami masalah kesehatan atau kematian.

Bangun kesiangan bukan cuma membuat tubuh terasa berat dan mengantuk sepanjang hari.

Jam Biologis Tubuh Ikut Terpengaruh

Tubuh manusia memiliki sistem pengatur waktu internal yang dikenal sebagai ritme sirkadian. Sistem ini membantu mengatur siklus tidur dan bangun serta sejumlah proses tubuh lainnya.

Pola tidur yang terus berubah, termasuk tidur sangat larut kemudian bangun jauh lebih siang, dapat membuat waktu biologis tubuh tidak selaras dengan pola aktivitas sehari-hari.

Menurut dr Adam, kebiasaan tidur tengah malam juga berkaitan dengan sejumlah penyakit kronis yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan.

"Kebiasaan tidur tengah malam ini berhubungan dengan beberapa penyakit kronis, sehingga meningkatkan risiko kematian," ujarnya.

Selain waktu bangun, penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara tidur setelah tengah malam dengan peningkatan risiko kematian dari berbagai penyebab.

"Ada penelitian yang menganalisis kebiasaan tidur di Amerika Serikat. Nah ternyata hasilnya menarik, yaitu kebiasaan tidur setelah tengah malam (Jam 00:00) meningkatkan risiko kematian hingga 53 persen lebih tinggi," katanya.

Bukan Sekadar Soal Berapa Lama Tidur

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan tidur tidak hanya berkaitan dengan berapa lama seseorang tidur. Waktu tidur dan bangun serta konsistensi jadwal juga menjadi bagian dari pola tidur yang perlu diperhatikan.

Seseorang yang tidur larut malam kemudian bangun kesiangan mungkin tetap mendapatkan durasi tidur yang cukup. Namun, jika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan tidak selaras dengan aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut tetap perlu dievaluasi.

Meski demikian, dr Adam menegaskan penelitian yang dibahas bersifat asosiasi. Artinya, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pola waktu tidur dengan risiko kematian, tetapi tidak membuktikan bahwa tidur larut atau bangun kesiangan secara langsung menyebabkan kematian.

“Yang perlu diingat adalah penelitian ini sifatnya asosiasi, bukan penyebab langsung kematian. Namun hasilnya tetap perlu dicermati dan jadi pengingat untuk menjaga pola tidur lebih baik," katanya.

Sebab itu, menjaga jadwal tidur dan bangun yang relatif konsisten dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan. Selain memperhatikan durasi tidur, masyarakat juga perlu memperhatikan keteraturan pola tidur agar jam biologis tubuh tetap selaras dengan aktivitas sehari-hari.

Topik Menarik