Karhutla Kepung 4 Gunung Jatim, Bromo hingga Argopuro Masih Terpantau Asap
JAKARTA, iNews.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda empat kawasan gunung di Jawa Timur hingga Minggu (13/9/2026). Upaya pemadaman terkendala medan terjal, akses terbatas, kabut, dan angin kencang, termasuk membuat operasi water bombing di kawasan Gunung Bromo belum dapat dilakukan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut tim gabungan masih melakukan pemadaman, pembasahan, pemantauan, serta observasi udara untuk mengendalikan titik api dan mencegah kebakaran meluas.
“Kondisi medan yang terjal, akses yang terbatas, kabut, dan angin kencang menjadi sejumlah kendala dalam penanganan di lapangan,” ungkap Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (14/9/2026).
Di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, kepulan asap masih terlihat di kawasan Gunung Kursi dan sekitar Jemplang.
Berdasarkan informasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), kebakaran pertama diketahui pada Kamis (10/9/2026) pukul 16.30 WIB di kawasan Savana Pengol. Api kemudian berkembang ke arah Gunung Kursi.
Pada Sabtu (12/9/2026), api kembali muncul di kawasan Pengol. Angin kencang membuat api bergerak hingga mencapai Pos Jemplang sekitar pukul 16.20 WIB.
Hingga Minggu (13/9/2026), tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pembasahan melalui jalur darat di lokasi yang dapat dijangkau. Operasi water bombing belum dapat dilakukan karena angin kencang.
“Untuk mendukung penanganan dan menjaga keselamatan pengunjung, BB TNBTS menutup seluruh kunjungan wisata Gunung Bromo dari seluruh pintu masuk mulai Sabtu (12/9) hingga batas waktu yang akan diinformasikan lebih lanjut,” ujar Berton.
Karhutla juga masih ditangani di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang. Observasi udara pada Sabtu (12/9/20/6) menggunakan Helikopter PK-DAP menunjukkan masih terdapat kepulan asap.
Titik api baru terpantau di sekitar Pos 3 jalur pendakian. Dari jalur darat, tim gabungan melakukan pemadaman bara api di Pos Watu Rejeng untuk memastikan bara benar-benar padam sekaligus mencegah penjalaran ke wilayah yang lebih rendah.
“Titik api di sekitar Pos 3 belum dapat ditangani secara langsung karena kondisi medan yang terjal sehingga perkembangannya dipantau dari Pos Watu Rejeng dan Pos 2,” kata Berton.
Di kawasan Gunung Argopuro, Kabupaten Jember, kepulan asap masih terpantau. Sejumlah titik api berada di wilayah lereng yang sulit dijangkau.
Titik api terpantau di Gunung Gilap dan Cikasur, Aeng Kenek di Area Cemara Lima, serta Gunung Pinggang. Tim gabungan melakukan pemadaman manual menggunakan metode gepyok di kawasan Aeng Kenek.
“Saat ini kawasan Gunung Argopuro juga tertutup kabut sehingga pemantauan terus dilakukan. Perhutani KPH Jember turut melakukan patroli dan pemantauan di kawasan tersebut, sementara tim gabungan melanjutkan penanganan pada lokasi yang dapat dijangkau,” ujar Berton.
Sementara itu, observasi udara menggunakan Helikopter PK-DAP pada Minggu (13/9/2026) menunjukkan kepulan asap tebal di kawasan Gunung Kawinajang, Kabupaten Blitar.
Hasil pemantauan menunjukkan adanya titik api yang mengarah menuju wilayah Savana Gunung Butak, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
“BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Blitar dan BPBD Kabupaten Malang terus melakukan asesmen dan pemantauan terhadap perkembangan titik api serta kondisi wilayah di sekitar lokasi,” papar Berton.
Hingga Minggu (13/9/2026) pukul 18.00 WIB, BNPB belum menerima laporan korban jiwa akibat karhutla di empat kawasan tersebut. Dampak kejadian masih dalam proses pendataan.
Tim gabungan tetap melakukan penanganan dengan mempertimbangkan kondisi medan, cuaca, akses menuju lokasi, serta keselamatan personel.
“BNPB mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati lokasi kebakaran dan mematuhi arahan petugas, termasuk ketentuan penutupan kawasan wisata. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap kepada petugas atau pemerintah daerah setempat,” ucap dia.










