Serda Ahmad Muzammil Prajurit TNI AU Meninggal Tak Wajar, Diduga Dianiaya 4 Senior

Serda Ahmad Muzammil Prajurit TNI AU Meninggal Tak Wajar, Diduga Dianiaya 4 Senior

Nasional | inews | Sabtu, 12 September 2026 - 19:53
share

MAGETAN, iNews.id - Kabar duka menyelimuti keluarga Serda Ahmad Muzammil Farisa (22), prajurit TNI Angkatan Udara (AU) yang meninggal dalam kondisi tak wajar. Keluarga menduga almarhum menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah seniornya saat berada di mes Mabes TNI AU.

Jenazah Serda Ahmad Muzammil telah dimakamkan di tempat pemakaman umum di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (11/9/2026) dini hari. Sebelumnya, jenazah prajurit TNI AU tersebut sempat menjalani autopsi di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta.

Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, mengungkap adanya informasi yang diterimanya mengenai dugaan penganiayaan terhadap anak pertamanya tersebut. Menurutnya, peristiwa itu diduga terjadi di mes Mabes TNI AU, Rabu (9/9/2026) pukul 23.00 WIB dan kembali berlanjut Kamis (10/9/2026) pukul 01.00 WIB.

"Saya terima informasi kejadiannya di mes jam 11 malam. Sempat berhenti lanjut jam 1 dini hari, penganiayaan oleh empat orang," ujarnya, Sabtu (12/9/2026).

Toni juga mengaku melihat adanya luka pada tubuh putranya. Dia menyebut terdapat luka seperti benturan pada bagian dagu dan lebam di dada yang menurutnya seperti bekas pukulan.

"Lukanya di dagu ada benturan kemudian lebam di dada seperti bekas pukulan," katanya.

Serda Ahmad Muzammil diketahui baru sekitar 1,5 tahun bertugas sebagai bintara psikologi di Mabes TNI AU. Prajurit muda ini merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Keluarga awalnya menerima informasi bahwa Serda Ahmad Muzammil meninggal akibat kecelakaan pada Kamis (10/9/2026) pagi. Namun, belakangan keluarga mendapat informasi yang memunculkan dugaan bahwa korban meninggal setelah mengalami penganiayaan.

Jenazah korban kemudian menjalani autopsi di RS Polri Kramatjati untuk mengetahui penyebab kematiannya. Hingga kini, keluarga mengaku belum menerima laporan resmi hasil autopsi maupun pemeriksaan laboratorium.

Meski demikian, keluarga menyatakan akan terus mencari keadilan dan meminta pihak yang diduga terlibat diproses sesuai hukum. Keluarga bahkan berharap jika terbukti bersalah, para pelaku mendapat hukuman tegas hingga diberhentikan dari TNI.

Dugaan penganiayaan tersebut, menurut keluarga, juga diperkuat informasi dari rekan seangkatan korban serta foto yang menunjukkan luka lebam pada bagian dagu dan dada. Namun, penyebab pasti kematian Serda Ahmad Muzammil masih menunggu hasil pemeriksaan resmi.

Toni berharap Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), dan Panglima TNI melakukan evaluasi menyeluruh atas kejadian tersebut, terlebih dugaan peristiwa itu disebut terjadi di lingkungan Mabes TNI AU.

"Harapan kami, Pak Presiden Prabowo, Pak KSAU juga Panglima TNI bisa mengevaluasi lebih terkait kejadian ini. Karena kejadiannya di Mabes AU, bukan di luar Jawa," ujarnya.

"Di Mabes AU saja bisa kejadian seperti ini, saya sangat prihatin selaku orang tua kehilangan anak saya," ucapnya.

Diketahui, jenazah Serda Ahmad Muzammil tiba di rumah duka di Desa Jonggrang pada Jumat (11/9/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan ambulans TNI AU.

Saat ini suasana duka masih terlihat di rumah korban hingga Jumat siang, dengan sejumlah kerabat dan rekan kerja ayah korban berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa.

Topik Menarik