Badan Geologi Ungkap Kondisi Terkini Anak Krakatau: Erupsi Melandai, Gempa Vulkanik Meningkat

Badan Geologi Ungkap Kondisi Terkini Anak Krakatau: Erupsi Melandai, Gempa Vulkanik Meningkat

Terkini | inews | Sabtu, 12 September 2026 - 10:44
share

JAKARTA, iNews.id - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai melandai setelah mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026. Namun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mewaspadai peningkatan gempa vulkanik yang mengindikasikan adanya pergerakan atau suplai magma dari bagian dalam gunung.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi hingga Jumat (11/9/2026) pukul 06.00 WIB, aktivitas permukaan Gunung Anak Krakatau telah beralih menjadi erupsi Strombolian. Setelah episode erupsi menerus berakhir, tercatat sebanyak 14 kali erupsi Strombolian.

Meski intensitas erupsi di permukaan menurun, kondisi kegempaan belum sepenuhnya menunjukkan penurunan. Gempa frekuensi rendah serta gempa hybrid atau fase banyak masih berfluktuasi dengan kecenderungan menurun. Sementara itu, gempa vulkanik justru meningkat dibandingkan kondisi rata-rata rekaman Gunung Anak Krakatau.

"Peningkatan gempa vulkanik dalam menunjukkan masih berlangsungnya pergerakan atau suplai magma dari bagian yang lebih dalam," ujar Lana dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (12/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat potensi terjadinya erupsi kembali masih tinggi. Karena itu, penurunan intensitas erupsi di permukaan tidak dapat diartikan aktivitas Gunung Anak Krakatau telah berakhir.

Badan Geologi pun masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Masyarakat, wisatawan, nelayan, serta pelaku aktivitas pelayaran diminta tidak mendekati atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Lana menjelaskan, erupsi Strombolian merupakan salah satu karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau. Erupsi ini berupa letupan berkala akibat pelepasan gas dari magma yang dapat menghasilkan lontaran materiel pijar dan abu vulkanik di sekitar kawah.

Di sisi lain, pemantauan aktivitas gunung api tetap dilakukan secara berkelanjutan. Sejumlah peralatan pemantauan memang terdampak akibat aktivitas erupsi. Namun, Badan Geologi masih memperoleh data dari peralatan yang berfungsi, pengamatan visual, serta parameter pemantauan lainnya.

Badan Geologi juga menyiapkan pemeriksaan, perbaikan, dan penggantian peralatan yang terdampak. Pelaksanaannya akan mempertimbangkan kondisi aktivitas gunung api, cuaca, dan keselamatan petugas.

"Keselamatan personel menjadi prioritas. Petugas baru akan diterjunkan setelah kondisi memungkinkan dan seluruh prosedur keselamatan terpenuhi," ucap Lana.

Masyarakat yang terdampak hujan abu juga diminta menggunakan masker, melindungi mata, menutup sumber air bersih, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan abu meningkat.

Badan Geologi mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal Badan Geologi dan MAGMA Indonesia.

Topik Menarik