Sepekan Berlalu, Erupsi Gunung Anak Krakatau Akan Segera Berakhir?

Sepekan Berlalu, Erupsi Gunung Anak Krakatau Akan Segera Berakhir?

Teknologi | inews | Jum'at, 11 September 2026 - 12:12
share

JAKARTA, iNews.id - Seminggu telah berlalu sejak Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi besar pada Jumat (4/9/2026). Setelah sempat mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam, apakah aktivitas gunung api di Selat Sunda itu kini akan segera berakhir?

Jawabannya belum bisa dipastikan.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau memang mengalami perubahan dibandingkan fase awal erupsi. Setelah erupsi menerus selama sekitar 25 jam berakhir pada 6 September, aktivitasnya beralih menjadi erupsi secara berkala atau intermiten.

Artinya, berakhirnya fase erupsi menerus tidak otomatis menandakan rangkaian erupsi telah selesai.

Badan Geologi masih memantau aktivitas Anak Krakatau karena gunung tersebut tetap menunjukkan letusan setelah episode erupsi utama mereda. Dalam laporan yang dikutip Associated Press pada 9 September, Anak Krakatau masih mengalami erupsi secara intermiten yang mengeluarkan lava, abu dan material vulkanik pijar dari kawah.

Erupsi Menerus Sudah Berakhir, Bukan Berarti Aktivitas Selesai

Fase paling intens terjadi sejak 4 September. Anak Krakatau kemudian mengalami erupsi menerus selama kurang lebih 25 jam.

Fase tersebut menjadi penyebab utama sebaran abu vulkanik meluas hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan. Abu bahkan mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki dan membuat delapan bandara sempat mengalami gangguan operasional. Lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak pada 6 September.

Namun, setelah periode erupsi menerus tersebut selesai, Anak Krakatau tidak langsung memasuki fase tenang.

Aktivitas vulkanik justru berubah menjadi letusan-letusan yang terjadi secara berkala.

8 September Masih Terjadi Tiga Erupsi

Salah satu bukti bahwa aktivitas Anak Krakatau belum selesai terlihat pada Selasa (8/9/2026).

Ketika kondisi penerbangan mulai membaik dan seluruh bandara yang sebelumnya ditutup akibat abu vulkanik telah kembali dibuka, Anak Krakatau masih mengalami tiga erupsi yang lebih kecil.

Reuters melaporkan aktivitas tersebut tetap menjadi perhatian karena dampak erupsi berikutnya bergantung pada jumlah abu yang dilepaskan dan arah pergerakan angin.

Dengan demikian, membaiknya kondisi penerbangan tidak dapat dijadikan indikator bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah berakhir.

9 September: Anak Krakatau Masih Meletus

Aktivitas tersebut berlanjut hingga Rabu (9/9/2026). Badan Geologi menyatakan Anak Krakatau masih mengalami erupsi secara intermiten. Letusan berkala tersebut dapat mengeluarkan lava, abu dan material pijar dari kawah.

Pada hari yang sama, aktivitas vulkanik Anak Krakatau juga menjadi latar peristiwa hilangnya kapal cepat yang membawa delapan orang di perairan Selat Sunda. Mereka berangkat dari Carita, Banten, untuk meliput aktivitas gunung api tersebut.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa meski erupsi menerus telah berhenti, kawasan sekitar Anak Krakatau masih memiliki risiko dan bukan lokasi yang aman untuk didekati sembarangan.

Apakah Ini Tanda Erupsi Akan Segera Berakhir?

Belum tentu. Perubahan dari erupsi menerus menjadi erupsi intermiten memang menunjukkan intensitas aktivitas telah berubah, tetapi belum cukup untuk memastikan kapan seluruh rangkaian erupsi akan selesai.

Gunung api dapat mengalami pola aktivitas yang naik-turun. Setelah periode erupsi besar, aktivitas bisa menurun, tetapi kemudian kembali meningkat.

Karena itu, indikator yang lebih penting bukan sekadar apakah letusan sudah lebih kecil dibandingkan 4-6 September, melainkan bagaimana perkembangan aktivitas vulkanik berdasarkan pemantauan Badan Geologi/PVMBG.

Sampai laporan yang tersedia pada pekan ini, Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas erupsi berkala. Bahkan laporan 9 September secara eksplisit menyebut letusan masih terjadi secara intermiten.

Status Siaga Masih Jadi Perhatian

Anak Krakatau juga masih berada pada Level III atau Siaga. Pada level tersebut, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius yang telah ditetapkan pemerintah.

AP melaporkan otoritas tetap meminta masyarakat dan pengunjung menjaga jarak setidaknya 3 kilometer dari kawah aktif karena potensi bahaya masih ada. Bahaya tersebut dapat berupa lontaran material vulkanik, abu hingga lava.

Status ini menjadi salah satu alasan mengapa belum tepat menyebut aktivitas Anak Krakatau sudah menuju akhir hanya karena fase erupsi menerus telah selesai.

Jadi, Kapan Erupsi Anak Krakatau Berakhir?

Hingga Jumat (11/9/2026), belum ada kepastian bahwa rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau akan segera berakhir.

Yang dapat dipastikan adalah aktivitasnya telah berubah. Erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam pada fase awal telah berakhir, tetapi Anak Krakatau masih menunjukkan letusan secara berkala.

Dengan kondisi tersebut, kesimpulan paling tepat untuk saat ini adalah erupsi besar sudah mereda, tetapi aktivitas vulkanik Anak Krakatau belum benar-benar selesai.

Masyarakat juga tidak disarankan menjadikan berkurangnya abu atau normalnya penerbangan sebagai tanda bahwa Anak Krakatau telah aman sepenuhnya.

Pemantauan tetap diperlukan karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu. Terlebih, Anak Krakatau memiliki sejarah aktivitas yang dapat memberikan dampak luas, termasuk tsunami Selat Sunda pada 2018 akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung.

Karena itu, selama status gunung masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta mengikuti rekomendasi Badan Geologi/PVMBG dan tidak memasuki zona berbahaya di sekitar kawah.

Topik Menarik