Berapa Lama Vape dan Asap Rokok Bertahan di Udara? Penelitian Ungkap Fakta Ini
JAKARTA, iNews.id - Hidup tanpa asap rokok, vape atau polusi udara membuat lingkungan lebih sehat. Namun, pertanyaan muncul berapa lama vape dan asap rokok bertahan di udara?
Penelitian menunjukkan aerosol yang diembuskan pengguna vape dapat menghilang dalam hitungan detik, sedangkan partikel asap rokok membutuhkan waktu lebih lama untuk menghilang dan dapat bertahan hingga berjam-jam dalam kondisi tertentu.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan karakteristik partikel yang dihasilkan vape dan rokok konvensional. Aerosol vape memiliki sifat lebih mudah menguap, sementara partikel dalam asap rokok cenderung lebih stabil di udara.
Berdasarkan kajian ilmiah berjudul Characterization of the Spatial and Temporal Dispersion Differences Between Exhaled E-Cigarette Mist and Cigarette Smoke, partikel yang diembuskan pengguna vape dapat menguap dalam waktu sekitar 10-15 detik.
“Diketahui, aerosol vape berubah menjadi senyawa organik yang mudah menguap (volatil). Karakteristik tersebut membuat aerosol vape memiliki pola penyebaran yang berbeda dibandingkan dengan asap rokok,” tulis laporan yang disusun Dainius Martuzevicius dkk itu dilansir Jumat (11/9/2026).
Penelitian tersebut membandingkan pola penyebaran aerosol yang diembuskan pengguna rokok elektronik dengan partikel asap rokok. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan karakteristik dan waktu bertahannya partikel di udara.
Founder Center of Excellence for the Acceleration of Harm Reduction (CoEHAR) dari University of Catania, Riccardo Polosa, menyebut aerosol yang dihasilkan vape memiliki karakteristik berbeda dengan emisi dari pembakaran rokok.
“Aerosol dari vape menyebar dalam waktu yang sangat singkat dan bersifat mudah menguap. Emisi kimia dari vape jauh lebih sedikit zat bahayanya dibandingkan dengan rokok yang dibakar,” katanya.
National Health Service (NHS), sistem layanan kesehatan masyarakat Inggris, juga membedakan aerosol rokok elektronik dengan asap tembakau. NHS menyatakan rokok elektronik tidak menghasilkan asap tembakau seperti rokok konvensional.
“Menggunakan rokok elektronik tidak menghasilkan asap tembakau sehingga risiko perokok pasif tidak berlaku untuk produk ini. Rokok elektronik melepaskan jumlah nikotin yang sangat kecil ke atmosfer dan sejumlah bukti yang tersedia menunjukkan risiko perokok pasif terhadap orang di sekitarnya cukup kecil dibandingkan dengan rokok,” dikutip dari laman resmi NHS.
Sementara itu, partikel asap rokok memiliki karakteristik yang membuatnya bertahan lebih lama di udara. Dalam penelitian yang sama, partikel dari asap rokok sebagian besar bersifat non-volatil atau semi-volatil sehingga lebih stabil dibandingkan partikel yang berasal dari aerosol rokok elektronik.
“Proses hilangnya partikel dalam asap rokok memakan waktu jauh lebih lama (beberapa menit) dan sangat bergantung pada tingkat ventilasi di dalam ruangan,” kata kajian tersebut.
Kondisi ruangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi seberapa cepat partikel asap rokok berkurang. Ventilasi yang lebih baik dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara, meski tidak serta-merta menghilangkan seluruh paparan.
NHS bahkan menyebut asap rokok dapat bertahan hingga berjam-jam meskipun jendela maupun pintu dalam keadaan terbuka. Asap rokok merupakan campuran berbagai senyawa yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
Sebagian asap rokok juga tidak selalu terlihat atau tercium. Kondisi tersebut membuat orang di sekitar perokok tetap berpotensi terpapar berbagai zat kimia yang terdapat dalam asap.
“Meskipun seseorang dapat membatasi aktivitas merokoknya hanya di satu ruangan, asapnya akan menyebar ke seluruh bagian rumah dan terhirup oleh orang lain,” tulis NHS.
Penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara aerosol vape dan asap rokok dalam hal karakteristik serta lama bertahannya partikel di udara. Aerosol vape yang diembuskan dalam kajian tersebut menghilang sekitar 10-15 detik, sementara partikel asap rokok membutuhkan waktu lebih lama dan dipengaruhi kondisi ventilasi.





