Prabowo Sanjung SBY dan Demokrat: Waktu Tidak Berkuasa, Tak Mencaci Maki

Prabowo Sanjung SBY dan Demokrat: Waktu Tidak Berkuasa, Tak Mencaci Maki

Terkini | inews | Rabu, 9 September 2026 - 22:23
share

JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto menyanjung sikap Presiden ke-6 sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Prabowo menilai SBY telah memberikan contoh yang baik dalam menempuh jalur politik hingga menjadi Presiden.

Pujian tersebut disampaikan Prabowo saat berpidato dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Prabowo mengatakan, dirinya dan SBY sama-sama pernah menjadi jenderal TNI. Menurutnya, pengalaman sebagai tentara mengajarkan untuk mengabdi kepada rakyat, termasuk ketika terjun ke dunia politik.

"Saudara-saudara, Bapak SBY pernah jadi jenderal, saya juga pernah. Tapi kita TNI yang diajarkan, yang dibesarkan, yang dibina sebagai tentara rakyat. Kita dididik dari kecil sebagai tentara rakyat yang berjuang untuk rakyat. Jadi kita justru menghayati bahwa tentara itu adalah milik rakyat. Dan kalau kita ingin terus berbakti, mengabdi di bidang politik, kita harus menjalankan politik itu melalui demokrasi," ujarnya.

Menurut Prabowo, SBY memberikan contoh bahwa seseorang yang ingin menjadi Presiden harus menempuh jalur politik yang sesuai koridor, yakni melalui partai politik.

"Saya kira Pak SBY memberi contoh, pensiun, keluar dari tentara, bikin partai, maju ke hadapan rakyat mendapat mandat. Demikian juga saya, kalau nyontek yang baik boleh. Saya juga bikin partai, maju ke rakyat minta mandat. Empat kali tidak dikasih mandat, tapi akhirnya dikasih juga," kata Prabowo.

Prabowo kemudian menyoroti sikap Partai Demokrat ketika tidak lagi berada di pemerintahan. Dia mengapresiasi Demokrat yang menurutnya tidak mencaci atau menyerang pemerintah saat berada di luar kekuasaan.

"Maksudnya saya ingin sampaikan ya kan Pak SBY, partainya tadi dikatakan oleh Mas AHY, dikatakan Partai Demokrat pernah menang, pernah tidak menang. Bicara kan harus halus. Pernah di puncak, pernah tidak di puncak. Pernah di pemerintahan, pernah tidak. Tapi waktu tidak berkuasa Partai Demokrat tidak caci maki. Partai Demokrat tidak bakar-bakar. Saya waktu empat kali tidak menang saya pun terima, ya sudah, kita maju lagi. Ini demokrasi Indonesia," ujarnya.

Topik Menarik