Eks Wantimpres Agum Gumelar Ungkap Kunci Sukses MBG: Perencanaan Matang, Sistem yang Tepat
JAKARTA, iNews.id - Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan hasil pemikiran Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, program tersebut strategis dan merupakan gagasan yang brilian.
"Saya tahu betul siapa Pak Prabowo, bagaimana jalan pikiran Pak Prabowo. Saya tahu betul MBG itu satu pemikiran yang lahir dari seorang pemimpin namanya Prabowo Subianto yang menurut saya ini sangat strategis," kata Agum kepada wartawan, Selasa (8/9/2026).
Agum mengatakan, melalui program MBG, Prabowo ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat, khususnya dalam pemenuhan gizi. Menurutnya, Prabowo menyadari masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda sebagai penerus.
"Kalau generasi mudanya tidak disiapkan dengan baik ya bagaimana masa depan bangsa ini. Ini satu pemikiran yang kalau menurut saya pemikiran yang bagus, strategis dan bahkan brilian," tutur Agum.
Meski menilai gagasan tersebut brilian, Agum mengingatkan pelaksanaannya tetap membutuhkan persiapan dan perencanaan yang matang. Terlebih, MBG merupakan program dengan dukungan anggaran yang besar.
"Kita harus bisa mencari sistem yang paling baik, yang paling benar untuk menjalankan aktivitas yang positif ini," ucap dia.
Agum menyarankan Badan Gizi Nasional (BGN) menyusun naskah akademik sebagai landasan program tersebut. Dia juga mendorong BGN melakukan pilot project sebelum pelaksanaan program diperluas.
Selain itu, Agum meminta BGN mempelajari program serupa yang telah diterapkan di negara lain. Menurutnya, berbagai pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk menemukan sistem yang paling tepat dalam pelaksanaan MBG.
Agum kembali mengingatkan besarnya anggaran yang kini dikelola BGN. Karena itu, dia menilai diperlukan sistem yang benar-benar tepat agar program MBG dapat berjalan secara optimal.
"Jadi saran saya ini pemikiran yang brilian. Tapi harus dibuatkan dulu perencanaannya yang matang dicari sistem yang paling tepat untuk bisa melaksanakan," ujar Agum.
Dia menyadari masukan yang diberikan belum tentu seluruhnya diterima oleh pemerintah. Namun, menurutnya, memberikan masukan merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
"Ini salah satu masukannya seperti ini. Soal masukan yang diterima atau tidak itu sebagai staf ya itu risiko ya terima syukur, tidak diterima kita gak boleh marah," tandasnya.










