Darah Diharamkan dalam Islam, Profesor UI Ungkap 4 Bahaya bagi Kesehatan
JAKARTA, iNews.id - Darah diharamkan untuk dikonsumsi secara langsung dalam ajaran Islam. Di balik larangan tersebut, Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI), Profesor Agustino Zulys memaparkan empat alasan dari sisi kesehatan yang perlu diketahui.
Menurut Profesor Agustino, darah memang mengandung sejumlah nutrisi seperti protein dan zat besi. Namun, kandungan tersebut tidak membuat darah aman untuk diminum karena terdapat sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.
Penjelasan tersebut disampaikan Prof Agustino melalui unggahan video di akun Instagram miliknya. Dia membahas alasan darah tidak layak dikonsumsi dari perspektif ilmiah, mulai dari risiko penularan penyakit hingga potensi kelebihan zat besi.
“Mengapa darah diharamkan? Padahal darah mengandung protein, zat besi, bahkan nutrisi. Bukankah itu justru menyehatkan? Mengapa darah? Apakah hanya sekadar aturan agama atau ada hikmah ilmiah yang baru kita pahami?" kata Prof Zulys, dikutip Senin (7/9/2026).
1. Darah Bisa Menjadi Media Penularan Penyakit
Prof Agustino menjelaskan darah merupakan sistem transportasi utama di dalam tubuh. Selain membawa oksigen, nutrisi, dan hormon, darah juga membawa berbagai zat sisa metabolisme serta mikroorganisme yang beredar di dalam tubuh.
“Pertama, darah adalah media transportasi segala sesuatu dalam tubuh. Darah bukan sekadar cairan merah. Dia membawa oksigen, nutrisi, hormon, tetapi juga membawa limbah metabolisme, racun, mikroba yang sedang beredar dalam tubuh," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat darah berpotensi menjadi media penularan penyakit jika dikonsumsi, terutama apabila berasal dari sumber yang tidak terjamin kebersihannya.
“Karena itu, secara medis darah berpotensi menjadi media penularan berbagai penyakit, seperti Hepatitis B, Hepatitis C, berbagai infeksi bakteri. Itulah sebabnya dunia medis tidak pernah merekomendasikan konsumsi darah mentah,” kata Prof Zulys.
2. Darah Mudah Menjadi Tempat Berkembangnya Bakteri
Bahaya berikutnya berkaitan dengan darah yang sudah keluar dari pembuluh tubuh. Kandungan protein dan air di dalam darah dapat menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme.
“Kedua, darah sangat mudah menjadi tempat berkembang biaknya bakteri. Begitu darah keluar dari pembuluh, kandungan protein dan airnya menjadi media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme,” ujar Prof Zulys.
Sebab itu, darah yang tidak ditangani secara higienis memiliki risiko terkontaminasi mikroorganisme. Konsumsi darah mentah pun dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat kontaminasi tersebut.
3. Kelebihan Zat Besi Bisa Merusak Organ
Darah memang mengandung zat besi yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi penting. Namun, anggapan semakin banyak zat besi yang dikonsumsi akan semakin sehat tidak sepenuhnya benar.
“Ketiga, kandungan zat besi yang terlalu tinggi justru bisa berbahaya. Banyak orang mengira semakin banyak zat besi, semakin sehat. Padahal tidak. Konsumsi zat besi berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penumpukan besi yang dapat merusak hati, pankreas, jantung. Artinya, tidak semua yang bergizi boleh dikonsumsi tanpa batas,” katanya.
Penumpukan zat besi secara berlebihan dalam tubuh dapat dikaitkan dengan kondisi hemokromatosis. Zat besi yang terakumulasi dalam jumlah tinggi dapat mengganggu fungsi sejumlah organ, termasuk hati, pankreas, dan jantung.
4. Tidak Ada Manfaat Kesehatan Khusus dari Minum Darah
Bahaya lainnya berkaitan dengan manfaat yang diperoleh. Menurut Prof Agustino, kandungan protein dan zat besi pada darah bukan alasan untuk menjadikannya sebagai sumber nutrisi karena zat gizi tersebut bisa diperoleh dari makanan lain.
“Keempat, tidak ada manfaat kesehatan khusus dari meminum darah. Kalau tujuannya mencari protein atau zat besi; daging, ikan, telur, hati memberikan manfaat yang sama, bahkan lebih aman. Sampai hari ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa minum darah memberikan manfaat kesehatan," ujar Prof Zulys.
Artinya, kebutuhan protein dan zat besi dapat dipenuhi melalui berbagai makanan yang lebih umum dikonsumsi. Sementara itu, konsumsi darah secara langsung tidak memiliki manfaat kesehatan khusus yang sudah terbukti secara ilmiah.
Darah pada Daging Tidak Sama dengan Darah Mengalir
Salut! WBI Fashion Padel Nusantara Jadi yang Pertama Gabungkan Olahraga dan Budaya Nusantara
Prof Agustino menjelaskan mengenai daging yang masih memiliki sisa darah setelah proses penyembelihan. Dia menekankan adanya perbedaan antara darah yang mengalir dengan sisa darah yang secara alami masih terdapat pada jaringan daging.
“Lalu bagaimana dengan daging yang masih ada darahnya? Islam tidak mengharamkan darah yang masih tersisa alami pada daging setelah proses penyembelihan. Yang diharamkan adalah darah yang mengalir," katanya.
Penjelasan tersebut sekaligus memberikan konteks mengenai larangan konsumsi darah dalam ajaran Islam. Dari sisi kesehatan, darah juga memiliki karakteristik berbeda dengan bahan pangan yang memang dirancang untuk menjadi sumber nutrisi.
“Inilah indahnya Islam. Allah tidak hanya memerintahkan, tapi juga melindungi. Tidak semua yang dilarang Allah langsung bisa dijelaskan oleh sains. Namun, sains dapat menguatkan hikmah di balik larangan-Nya,” prof Zulys.










