Kasus Keracunan MBG di Sidoarjo: 516 Santri Terdampak, Operasional SPPG Resmi Ditutup
SIDOARJO, iNews.id — Sebanyak 516 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keracunan makanan. Insiden massal ini terjadi usai para santri menyantap hidangan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah.
Berdasarkan data terkini, ratusan santri sempat dirawat dan diobservasi di setidaknya delapan rumah sakit di wilayah Sidoarjo, termasuk RSUD Notopuro, RS Siti Hajar, hingga RS Pusdik Bhayangkara. Sebanyak 427 santri telah diperbolehkan pulang, sementara puluhan lainnya masih harus menjalani perawatan intensif (rawat inap).
Pihak pengasuh pesantren menegaskan hal ini adalah keracunan MBG bukan berasal dari dapur internal pesantren.
Sementara pihak rumah sakit dan dinas terkait juga membantah rumor liar yang beredar di media sosial dan memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Menu makanan yang dibagikan saat kejadian terdiri dari nasi, telur orak-arik, tempe, dan sayur. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, menyampaikan bahwa investigasi tengah dilakukan untuk mengusut penyebab pasti kontaminasi, termasuk menelusuri kemungkinan kualitas bahan makanan maupun keterlambatan waktu konsumsi dari batas yang ditentukan.
Emil menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan para santri korban keracunan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Dinas Kesehatan setempat juga mendirikan posko kesehatan di area pondok pesantren untuk melakukan penjemputan bola serta pemantauan kondisi kesehatan para santri secara berkala.
Sebagai bentuk penanganan tegas, Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Timur secara resmi menghentikan seluruh kegiatan operasional dan memproduksi makanan di SPPG Kali Tengah hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tim BGN bersama Bupati Sidoarjo dan Kapolres setempat telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan sidak serta penanganan lebih lanjut.
Diketahui, SPPG Kali Tengah setiap harinya memproduksi sekitar 2.500 paket makanan MBG yang didistribusikan ke 15 sekolah di wilayah Tanggulangin. Meski fasilitas tersebut dikabarkan telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), audit menyeluruh tetap dilakukan untuk mengetahui letak penyimpangan prosedur yang terjadi dalam rantai pengolahan maupun distribusi makanan.










