Bukan Cuma Turunkan Berat Badan, Intermittent Fasting Bisa Perlambat Penuaan Otak

Bukan Cuma Turunkan Berat Badan, Intermittent Fasting Bisa Perlambat Penuaan Otak

Gaya Hidup | inews | Senin, 31 Agustus 2026 - 17:04
share

JAKARTA, iNews.id - Intermittent fasting atau pola makan dengan membatasi waktu makan selama periode tertentu selama ini populer sebagai salah satu cara membantu mengontrol berat badan. Di balik manfaat tersebut, pola makan ini juga dikaitkan dengan potensi menjaga kesehatan otak dan memperlambat proses penuaan kognitif.

Salah satu metode intermittent fasting yang banyak dilakukan adalah pola 16:8. Dalam metode ini, seseorang menjalani puasa selama 16 jam dan mengonsumsi makanan dalam jendela waktu delapan jam.

Dikutip dari Verywell Health, dr Sohiab Imtiaz, MD menjelaskan, pembatasan waktu makan dapat membantu tubuh mengatur kadar gula darah sekaligus meningkatkan sensitivitas insulin.

Kaitan intermittent fasting dengan kesehatan otak salah satunya diduga berasal dari pengaruhnya terhadap kadar gula darah dan peradangan. Ketika waktu makan dibatasi, jumlah kalori yang dikonsumsi juga berpotensi ikut berkurang.

Kondisi tersebut dapat membantu mengontrol gula darah dan berpotensi menurunkan peradangan pada otak atau neuroinflammation. Peradangan kronis pada otak sendiri kerap dikaitkan dengan proses penuaan dan berbagai gangguan neurodegeneratif.

Selain itu, pola makan dengan waktu yang konsisten pada siang hari berpotensi membantu menyelaraskan metabolisme tubuh dengan ritme sirkadian. Ritme sirkadian berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk siklus tidur.

Waktu Makan Berpengaruh pada Gula Darah

Bukan hanya jenis makanan, waktu mengonsumsinya juga dapat memengaruhi respons tubuh. Makan terlalu larut malam dapat menyebabkan lonjakan gula darah lebih tinggi dibandingkan ketika makanan yang sama dikonsumsi lebih awal pada hari yang sama.

Intermittent fasting juga memberikan tubuh periode lebih panjang tanpa asupan makanan. Kondisi ini membuat tubuh tidak terus-menerus berada dalam keadaan setelah makan, terutama ketika kebiasaan ngemil pada malam hari dikurangi.

Periode tanpa asupan tersebut dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Tubuh kemudian berpotensi menjadi lebih efektif dalam mengatur kadar gula darah.

Hal ini penting karena resistensi insulin disebut sebagai salah satu faktor yang berperan dalam proses penuaan otak. Dengan membaiknya sensitivitas insulin, proses yang berkaitan dengan penuaan otak berpotensi diperlambat.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak berarti semakin lama seseorang berpuasa maka semakin baik hasilnya. Durasi dan pola intermittent fasting perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh serta kebutuhan masing-masing.

Makanan Tetap Menjadi Kunci

Intermittent fasting bukan satu-satunya pola makan yang dapat mendukung kesehatan otak. Kualitas makanan yang dikonsumsi selama jendela makan tetap memiliki peran penting.

Pola makan sebaiknya dipenuhi makanan bergizi seperti buah dan sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan, ikan berlemak, kenari, dan minyak zaitun.

Makanan yang kaya antioksidan dan polifenol, seperti blueberry dan cokelat hitam, juga dapat menjadi pilihan dalam pola makan sehat.

Sebaliknya, konsumsi daging olahan dan gula tambahan sebaiknya dibatasi. Pola makan MIND, Mediterania, dan DASH memiliki bukti observasional yang cukup kuat terkait dengan penuaan kognitif yang lebih lambat dan penurunan risiko Alzheimer.

Dengan demikian, *intermittent fasting* dapat dipandang sebagai strategi tambahan untuk mendukung kesehatan metabolisme dan otak. Namun, pola ini tidak serta-merta menggantikan pola makan sehat karena kualitas makanan, tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan gaya hidup secara keseluruhan tetap berperan penting dalam menjaga kesehatan otak.

Topik Menarik