CDC Soroti Zika di Bali, Kenali Gejala hingga Bahayanya bagi Ibu Hamil

CDC Soroti Zika di Bali, Kenali Gejala hingga Bahayanya bagi Ibu Hamil

Gaya Hidup | inews | Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:30
share

JAKARTA, iNews.id - Virus Zika kembali menjadi perhatian setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menerbitkan Travel Health Notice terkait Zika di Bali.

CDC melaporkan adanya kasus Zika pada pelancong yang kembali dari Bali, sehingga wisatawan yang berkunjung ke Pulau Dewata diminta meningkatkan kewaspadaan. Peringatan tersebut juga secara khusus meminta perempuan hamil menghindari perjalanan ke Bali karena infeksi Zika selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir serius pada bayi.

Lantas, sebenarnya apa itu virus Zika, bagaimana cara penularannya, apa saja gejalanya, dan seberapa berbahaya penyakit ini?

Apa Itu Virus Zika?

Zika merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Zika. Virus ini terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes yang telah terinfeksi.

Nyamuk yang sama juga dikenal dapat menularkan sejumlah penyakit lain, termasuk dengue. Zika banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis.

Salah satu karakteristik Zika yang membuat penyakit ini sulit dikenali adalah banyak orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala sama sekali. CDC memperkirakan sekitar 80 persen orang yang terinfeksi Zika tidak menunjukkan gejala.

Apa Saja Gejala Zika?

Pada orang yang mengalami gejala, infeksi Zika umumnya tergolong ringan. Keluhan biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga sekitar satu minggu.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Demam
  • Ruam pada kulit
  • Nyeri sendi
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Mata merah atau konjungtivitis

Masalahnya, gejala tersebut dapat menyerupai sejumlah penyakit lain. Karena itu, seseorang yang baru bepergian ke wilayah dengan risiko Zika dan mengalami gejala tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Bagaimana Zika Menular?

Gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi merupakan jalur utama penularan Zika. Namun, virus ini ternyata tidak hanya berpindah melalui nyamuk.

Zika juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Selain itu, perempuan hamil yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada janinnya selama kehamilan. Penularan juga dapat terjadi di sekitar waktu persalinan.

Inilah alasan mengapa kewaspadaan terhadap Zika tidak cukup hanya dengan menghindari gigitan nyamuk. Pencegahan penularan seksual juga menjadi bagian penting, terutama bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.

Seberapa Bahaya Zika?

Bagi sebagian besar orang, Zika bukanlah penyakit yang biasanya menyebabkan kondisi berat. CDC menyebut penyakit ini umumnya ringan, sementara rawat inap dan kematian akibat Zika tergolong tidak umum.

Namun, anggapan bahwa Zika selalu ringan bisa menyesatkan. Risiko terbesar justru muncul ketika infeksi terjadi pada masa kehamilan.

Infeksi Zika selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir serius pada bayi, terutama pada otak dan mata. Kondisi tersebut dikenal sebagai congenital Zika syndrome. Infeksi selama kehamilan juga dikaitkan dengan keguguran, bayi lahir mati, dan kelahiran prematur.

Karena itu, Zika menjadi perhatian khusus bagi perempuan hamil maupun pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.

Tak Hanya Berdampak pada Kehamilan

Meskipun jarang, infeksi Zika juga dapat menimbulkan komplikasi pada orang yang terinfeksi.

CDC mencatat adanya hubungan antara infeksi Zika dan Guillain-Barré syndrome (GBS), yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelemahan hingga kelumpuhan. Komplikasi lain yang jarang dilaporkan mencakup gangguan pada otak dan sumsum tulang belakang.

Dengan demikian, Zika memang umumnya menyebabkan penyakit ringan, tetapi bukan berarti virus ini boleh dianggap sepele.

Mengapa CDC Mengeluarkan Peringatan untuk Bali?

Peringatan CDC muncul setelah adanya laporan kasus Zika pada pelancong yang kembali dari Bali. CDC kemudian memasukkan Bali dalam Travel Health Notice dan meminta wisatawan menerapkan kewaspadaan tambahan.

CDC merekomendasikan wisatawan melindungi diri dari gigitan nyamuk serta mencegah penularan seksual selama perjalanan dan setelah kembali dari Bali. Khusus perempuan hamil, CDC menyarankan untuk menghindari perjalanan ke Bali. Jika perjalanan tidak dapat ditunda, langkah pencegahan harus diterapkan secara ketat.

Sementara bagi orang yang sedang merencanakan kehamilan, CDC menyarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai risiko Zika dan mempertimbangkan penundaan kehamilan setelah perjalanan sesuai rekomendasi pencegahan penularan seksual. 

Belum Ada Vaksin untuk Mencegah Zika

Hal lain yang perlu diketahui, hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi Zika maupun obat khusus untuk mengobati penyakit tersebut. Karena itu, pencegahan menjadi langkah utama.

Wisatawan yang hendak ke Bali sebaiknya menggunakan penolak nyamuk, mengenakan pakaian yang menutupi kulit, serta mengurangi kemungkinan terkena gigitan nyamuk. Pencegahan penularan seksual juga perlu diperhatikan.

Dengan adanya peringatan terbaru CDC, wisatawan tidak perlu langsung panik. Namun, kewaspadaan menjadi penting, terutama bagi perempuan hamil dan pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.

Topik Menarik