AS Cabut Status Terorisme, Presiden Suriah: Lembaran Baru Dibuka, Noda Hitam Dihapus
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) akhirnya mencabut status Suriah sebagai Negara Sponsor Terorisme. Keputusan yang diumumkan Departemen Keuangan AS pada Senin (24/8/2026) itu disambut Presiden Suriah Ahmad Al Sharaa sebagai momentum untuk membuka lembaran baru dan menghapus noda hitam dari masa lalu negaranya.
Al Sharaa mengatakan pencabutan status tersebut menjadi awal bagi Suriah untuk memasuki babak baru yang berfokus pada rekonstruksi dan pembangunan. Menurutnya, rakyat Suriah telah berhasil melewati salah satu periode paling menyakitkan dalam sejarah negaranya.
“Hari ini, Suriah melepaskan noda hitam dari pundak dan merobek dengan tangannya lembaran dari masa lalu yang menyakitkan, untuk melangkah ke ruang baru, rekonstruksi, dan pembangunan,” kata Al Sharaa dalam pesan video yang diunggah di media sosial X, Selasa (25/8/2026).
“Rakyat Suriah yang hebat, Anda berhasil. Sanksi telah dicabut dan pembatasan telah dihapus,” lanjutnya.
Al Sharaa juga menyampaikan terima kasih kepada rakyat Suriah dan kerabatnya atas dukungan yang diberikan.
Tak lupa Presiden Suriah mengucapkan terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas keputusan yang disebutnya bersejarah itu. Trump menyampaikan rencana itu kepada Kongres pada 8 Juli dan mendapat tanggapan positif.
Pencabutan status tersebut dinilai dapat memberi ruang lebih besar bagi Suriah untuk memulihkan perekonomiannya setelah bertahun-tahun menghadapi berbagai tekanan dan pembatasan. AS menetapkan Suriah sebagai Negara Pendukung Terorisme sejak 1979.
“Sejalan dengan janji Presiden Trump untuk memberi keringanan sanksi kepada Suriah, Departemen Luar Negeri AS hari ini mencabut penetapan Suriah sebagai Negara Pendukung Terorisme,” bunyi pernyataan Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS, Senin.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio mengatakan, keputusan tersebut memungkinkan Suriah untuk melakukan revitalisasi dan mendorong kemajuan ekonomi. Pemerintahan Trump, kata dia, juga akan terus berupaya menciptakan perdamaian dan keamanan di Timur Tengah.
Kementerian Luar Negeri Suriah menyambut keputusan Washington tersebut sebagai pembuka “babak baru” dalam hubungan internasional negaranya.
Dengan dicabutnya status tersebut, Damaskus berharap terbuka peluang lebih besar untuk membangun kembali infrastruktur dan perekonomian yang terdampak konflik berkepanjangan.










