Kain Perca Naik Kelas! Sisa Produksi Fashion Disulap Jadi Karya Seni
JAKARTA, iNews.id - Kain perca atau potongan sisa produksi pakaian kerap dianggap sebagai limbah yang tidak lagi memiliki kegunaan. Namun, di tangan para seniman, material tersebut justru dapat berubah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus ekonomi.
Hal inilah yang diangkat Purana melalui pameran bertajuk 'Renjana Perca'. Pameran tersebut menghadirkan gagasan bahwa sisa material dari proses produksi fashion tidak harus berakhir di tempat sampah.
Dalam pameran ini, sebanyak 12 seniman dilibatkan untuk mengolah kain-kain perca menjadi berbagai karya seni. Material yang sebelumnya hanya tersisa dari proses pembuatan busana diberikan kehidupan baru melalui kreativitas dan tangan para seniman.
Kain perca tersebut tidak sekadar dimanfaatkan kembali, tetapi diolah menjadi karya dengan karakter dan nilai yang berbeda. Langkah ini sekaligus memperlihatkan bagaimana material sisa dapat memiliki fungsi baru apabila dikelola secara kreatif.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan praktik fashion yang lebih berkelanjutan. Industri fashion selama ini menghasilkan berbagai material sisa dalam proses produksinya. Dengan mengolah kembali bahan tersebut, jumlah material yang terbuang dapat ditekan.
Kain Perca Jadi Karya Bernilai
Melalui Renjana Perca, Purana ingin menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Pemanfaatan kembali material yang tersisa dari proses produksi juga dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi limbah.
Kain-kain yang sebelumnya tidak lagi digunakan justru mendapatkan nilai baru setelah melalui proses kreatif. Dari sekadar potongan bahan, kain perca dapat menjadi bagian dari karya seni yang memiliki daya tarik visual.
Kehadiran 12 seniman dalam pameran tersebut juga memperlihatkan berbagai kemungkinan dalam mengolah material yang sama. Setiap seniman dapat memberikan pendekatan berbeda sehingga menghasilkan karya dengan bentuk dan karakter yang beragam.
Konsep ini sekaligus memperluas pandangan terhadap material sisa dalam industri fashion. Kain perca tidak harus selalu dipandang sebagai limbah, tetapi dapat menjadi bahan baku untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Sejalan dengan Koleksi Fashion Anak
Semangat keberlanjutan tersebut hadir bersamaan dengan langkah Purana memperluas lini produknya melalui koleksi Purana Kids untuk Spring/Summer 27.
Koleksi perdana tersebut menghadirkan 12 item untuk anak laki-laki dan perempuan yang dapat dipadukan dengan busana orang tua. Untuk anak laki-laki tersedia model shirt, sedangkan pilihan untuk anak perempuan antara lain top, mini dress, dan dress dengan potongan A-line.
Founder & Chief Creative Officer Purana, Nonita Respati, mengatakan rancangan busana anak dibuat dengan mempertimbangkan aktivitas mereka.
"Memang kami menciptakan cutting-cutting siluet yang very easy and comfortable and relaxed to wear, karena yang pakai anak-anak juga," ujar Nonita dalam keterangan resminya, Senin (24/8/2026).
Koleksi Purana Kids menggunakan bahan poly-cotton dengan komposisi 70 persen katun. Motifnya pun terinspirasi dari koleksi dewasa, seperti floral dan stripe, termasuk karya seniman asal Yogyakarta, Afganial.
Dengan menggabungkan pengembangan koleksi fashion dan pemanfaatan kembali material sisa, Purana mencoba menunjukkan bahwa industri mode dapat tetap menghadirkan produk yang menarik sekaligus memberi perhatian terhadap persoalan limbah.
Pada akhirnya, kain perca bukan lagi sekadar potongan bahan yang tersisa. Dengan kreativitas, material tersebut dapat naik kelas menjadi karya yang memiliki fungsi, cerita, estetika, dan nilai ekonomi baru.








