Relawan Kemanusiaan Ahmad Zaki Meninggal saat Salurkan Bantuan Gempa NTT, Sempat Ucapkan Astagfirullah
JAKARTA, iNews.id - Kabar duka datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) di tengah penanganan bencana gempa. Relawan kemanusiaan sekaligus Founder Yayasan Gerak Bareng, Ahmad Zaki Ali, meninggal dunia saat berada di wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (21/8/2026).
Kisah detik-detik sebelum Ahmad Zaki meninggal dunia disampaikan rekan sesama relawan kemanusiaan dari Tim Hands Foundation, Muhammad Rafki Razif Kiransyah. Rafki mengaku sudah enam hari bersama almarhum untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di NTT.
Menurut Rafki, selama menjalankan misi kemanusiaan tersebut, Ahmad Zaki tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya. Bahkan, almarhum terlihat sehat dan bersemangat meski intensitas penyaluran bantuan cukup tinggi selama lima hari.
“Selama kurang lebih enam hari gitu kita sama-sama. Dari hari Senin, kita bareng-bareng ngeliat almarhum itu eh semangat. Terus sehat, gak ada keluhan sakit apa-apa terus juga gak keliatan kayak orang sakit gitu,” kata Rafki saat dihubungi iNews Media Group, Sabtu (22/8/2026).
Sebelum kejadian tersebut, Rafki bersama Ahmad Zaki dan tim berencana mendistribusikan 30 paket bantuan ke Desa Satar Padut, Kabupaten Manggarai Timur, sekitar pukul 14.00 WITA. Saat itu, Rafki dan Ahmad Zaki berada dalam satu mobil.
Setelah menyelesaikan penyaluran bantuan di lokasi terakhir, mereka kemudian memutar arah untuk melakukan asesmen kebutuhan warga terdampak gempa. Namun, sekitar beberapa meter setelah kendaraan berbalik arah, kondisi Ahmad Zaki tiba-tiba berubah.
Rafki mengaku mendengar Ahmad Zaki mengucapkan istigfar sebelum akhirnya tidak sadarkan diri di dalam mobil.
“Nah, gak lama dari kita muter balik dari tempat penyaluran terakhir sekitar 5 meter, beliau sempat berhenti. Terus yang kedengeran sama kita di mobil itu beliau istighfar, ‘Astagfirullah’ terus berhenti dan mulai gak sadarkan diri. Nah di situ kita juga kaget, panik,” ungkap dia.
Melihat kondisi tersebut, tim langsung berupaya membawa Ahmad Zaki ke posko medis. Mereka mendapat bantuan dari warga yang menyediakan kendaraan untuk mengantar almarhum.
Sesampainya di posko medis, tim kesehatan langsung memberikan pertolongan. Namun, upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa Ahmad Zaki. Dia dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 16.40 WITA.
“Nah terus, alhamdulillah ada bantuan dari mobil warga di sana, bantu untuk mengantar ke posko kesehatan ke medis. Lalu sesampainya di medis, sama tim medis juga sudah dilakukan pengupayaan untuk menyadarkan kembali. Itu kalau tidak salah sudah dilakukan apa, CPR sebanyak tujuh kali siklus besar gitu untuk pompa jantungnya. Tapi Qodarullah almarhum tidak bisa diselamatkan gitu, memang sudah eh waktunya eh almarhum istirahat,” ujar Rafki.
Rafki juga mengungkapkan, tim medis sempat menemukan sejumlah obat pribadi di kantong Ahmad Zaki. Salah satu obat tersebut disebut dokter sebagai obat untuk hipertensi.
“Dan sempat di cek juga di kantongnya itu ada obat-obat pribadi. Rafki kurang inget gitu detailnya obat apa aja, cuma yang kemarin disebut sama dokternya, ‘Oh ini ada obat hipertensi’ gitu,” katanya.
Kebakaran Landa Pasar Ciputat Tangsel
Kepergian Ahmad Zaki meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan sesama relawan. Rafki mengaku sangat terpukul karena selama bersama almarhum dalam misi kemanusiaan, dia tidak melihat adanya keluhan sakit dari Ahmad Zaki.
Rafki bahkan mengaku sempat gemetar dan panik ketika melihat Ahmad Zaki tiba-tiba tidak sadarkan diri di dalam mobil.
“Nah, karena di situ Rafki bener-bener panik, terus gemeter gitu di samping beliau banget dan gak bisa mikir apa-apa juga yang penting nyelamatin beliau sampai dengan posko medis aja. Karena bingung juga kondisi kita lagi penyaluran, lagi pendistribusian kayak gitu, eh tiba-tiba kejadian hal yang tidak diinginkan kayak gitu,” ujar Rafki.










