Kerja dari Pagi hingga Malam? Waspada Risiko Penyakit Ini di Usia Muda
JAKARTA, iNews.id - Bekerja dari pagi hingga malam hari sudah menjadi rutinitas bagi sebagian anak muda. Namun, tekanan pekerjaan, lembur, kurang tidur, dan stres yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Tirta Mandira Hudhi, mengatakan hipertensi pada anak muda dapat dipengaruhi kombinasi faktor genetik dan gaya hidup. Karena itu, usia muda tidak selalu menjadi jaminan seseorang terbebas dari tekanan darah tinggi.
"Kenapa anak muda sering terkena hipertensi? Jawabannya adalah karena gaya hidup dan lifestyle, dan kedua karena genetik. Nah, lucunya, penyakit-penyakit kardiovaskular yang terkait dengan jantung dan tekanan darah, itu ada faktor genetik," ujar dr. Tirta dalam unggahan video di akun Instagram-nya, dikutip Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, tekanan psikologis menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Beban tersebut dapat muncul sejak masa sekolah dan berlanjut ketika seseorang memasuki dunia kerja.
"Yang kedua karena gaya hidup. Pada anak muda ini kan tekanannya berat. Mereka terbiasa dengan konsentrasi karena dulu sekolah kita dari jam berapa? Jam 07.00 sampai jam 01.00. Jadi sudah capek sekolah, les, beban sekolah, dimarahin. Terus sampai kerja, dimarahin lagi, lembur lagi, belum standar sosial, itu akhirnya membuat gaya hidupnya menjadi tekanan psikologis kerja naik. Tekanan psikologis kerja naik, stres, itu akan meningkatkan risiko dari hipertensi, karena kortisolnya naik," ucap dr. Tirta.
Tekanan pekerjaan yang tinggi sering kali berjalan beriringan dengan kebiasaan hidup yang kurang sehat. Waktu kerja yang panjang dapat membuat seseorang sulit mendapatkan waktu tidur yang cukup, jarang berolahraga, serta memilih makanan yang praktis tetapi kurang sehat.
dr Tirta juga menyoroti sejumlah kebiasaan yang kerap dilakukan anak muda, seperti pola tidur berantakan, minim aktivitas fisik, konsumsi makanan tinggi karbohidrat, serta merokok. Kombinasi kebiasaan tersebut dapat membuat tekanan darah berada di atas rata-rata.
"Pola tidur berantakan, makan makanan karbo terlalu banyak, enggak pernah olahraga, terus habis itu dia ngerokok, ditambah ngerokok dan kopi. Kopi tok aman. Nah, kopi dikombinasi rokok, naik tuh simpatis. Dua kombinasi ini membuat tekanan anak-anak muda ini menjadi tekanan darahnya di atas rata-rata," katanya.
Hipertensi perlu mendapat perhatian karena sering kali tidak menimbulkan gejala yang khas. Seseorang dapat memiliki tekanan darah tinggi tanpa merasa sakit sehingga pemeriksaan tekanan darah menjadi penting untuk mengetahui kondisinya.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hipertensi pada orang dewasa ditetapkan ketika tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih, berdasarkan pengukuran pada dua hari berbeda.
Sementara itu, pedoman American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) 2025 menggunakan kategori yang lebih ketat. Tekanan darah sistolik 130-139 mmHg atau diastolik 80-89 mmHg sudah termasuk hipertensi tahap 1.
Karena itu, anak muda yang memiliki rutinitas kerja panjang sebaiknya tidak mengabaikan pemeriksaan tekanan darah. Terlebih jika terdapat riwayat hipertensi, penyakit jantung, atau stroke dalam keluarga.
"Jadi dilihat, kalau kamu lihat bapak, ibumu, atau saudaramu, kakek-nenekmu ada riwayat meninggal dadakan karena penyakit jantung dan stroke, bisa jadi kamu juga harus check-up. Jadi yang pertama genetik," tambah dia.
Pencegahan dapat dimulai dengan memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Anak muda perlu memberikan waktu yang cukup untuk tidur, rutin melakukan aktivitas fisik, menjaga pola makan, menghindari rokok, dan mencari cara yang sehat untuk mengelola stres.
dr Tirta menekankan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mengurangi risiko hipertensi pada usia muda. "Jadi ubah gaya hidup, rajin olahraga, tidur teratur, dan kurangi stres kerja," katanya.
Bekerja keras tidak seharusnya membuat kesehatan menjadi korban. Menjaga pola tidur, mengatur beban kerja, rutin bergerak dan memantau tekanan darah dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan di usia produktif.








