Detoks Medsos 1-2 Minggu Penting untuk Kesehatan Mental, Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id – Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, terlalu sering membuka lini masa, mengecek notifikasi, hingga tanpa sadar berjam-jam scrolling ternyata bisa membuat pikiran ikut lelah.
Dalam kondisi seperti itu, mengambil jeda dari media sosial atau 'social media detox' dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menjaga kesehatan mental. Berikut ini penjelasan selengkapnya.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menyebut detoks media sosial dapat memberikan sejumlah manfaat, terutama bagi mereka yang mulai merasa lelah setiap kali berhadapan dengan layar.
"Bagi kalian yang sedang merasa lelah setiap melihat media sosial, detoks media sosial bisa menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan perbaikan kualitas hidup secara keseluruhan," ungkap dr. Adam dalam utas di akun Threads miliknya, dikutip Minggu (9/8/2026).
Kenapa Media Sosial Bisa Bikin Mental Lelah?
Menurut dr. Adam, salah satu masalah yang dapat muncul dari penggunaan media sosial adalah overstimulasi.
Berbagai informasi, gambar, video, suara, serta notifikasi yang masuk secara terus-menerus membuat otak menerima banyak rangsangan dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya kecemasan dan kelelahan mental.
“Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental,” jelasnya.
Rasa lelah tersebut terkadang muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, seseorang merasa malas membuka aplikasi tetapi tetap melakukannya secara berulang, sulit berhenti scrolling, atau justru merasa semakin tidak nyaman setelah melihat berbagai unggahan orang lain.
Lantas, berapa lama seseorang perlu mengambil jeda dari media sosial?
Dokter Adam menjelaskan bahwa durasi detoks yang optimal memang dapat berbeda berdasarkan penelitian maupun kondisi setiap orang. Namun, sejumlah penelitian menyebut periode satu hingga dua minggu sebagai salah satu durasi yang dapat memberikan manfaat.
“Durasi detoks yang optimal bervariasi antarpenelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu,” kata dr. Adam.
Artinya, seseorang tidak harus langsung menghapus seluruh akun media sosialnya. Detoks dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan, mematikan notifikasi, membatasi waktu membuka aplikasi, atau mengambil jeda total selama periode tertentu.
Apa Tujuan Detoks Media Sosial?
Detoks bukan sekadar membuat seseorang jauh dari ponsel. Ada beberapa kebiasaan yang ingin dikurangi melalui jeda tersebut.
Dokter Adam menyebut detoks media sosial bertujuan mengurangi kebiasaan melihat notifikasi secara terus-menerus. Selain itu, langkah ini dapat membantu seseorang mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain serta FOMO (fear of missing out).
“Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan FOMO (fear of missing out),” tuturnya.
Kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial memang dapat menjadi salah satu sumber tekanan psikologis. Sementara itu, FOMO membuat seseorang merasa harus terus mengikuti apa yang sedang terjadi agar tidak merasa tertinggal.
Mengambil jeda dari media sosial bukan berarti menghabiskan waktu kosong dengan terus menatap layar dari aplikasi lain.
Agar manfaatnya lebih optimal, dr. Adam menyarankan waktu yang biasanya digunakan untuk bermedia sosial dialihkan ke berbagai aktivitas offline.
“Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat,” pungkasnya.
Dengan begitu, detoks media sosial dapat menjadi momentum untuk mengatur kembali kebiasaan digital. Bukan hanya mengurangi durasi scrolling, tetapi juga memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk mendapatkan waktu istirahat dari derasnya informasi di dunia maya.










