Murka! Trump Ancam Penjarakan Pihak yang Bocorkan Stok Rudal AS
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump murka setelah muncul laporan yang menyebut persediaan rudal militer negaranya menipis akibat perang melawan Iran. Trump bahkan mengancam akan memenjarakan siapa pun yang membocorkan informasi sensitif terkait stok amunisi militer AS.
Melalui akun media sosial Truth Social, Rabu (5/8/2026), Trump melontarkan ancaman keras kepada pihak yang diduga membocorkan informasi mengenai kondisi persediaan rudal militer AS. Menurut dia, kebocoran informasi tersebut merupakan tindakan serius yang bisa berujung hukuman berat.
"Para pembocor pernyataan pengkhianatan ini (bisa menghadapi hukuman penjara yang lama)," tulisnya.
Trump juga menegaskan persediaan amunisi AS masih sangat melimpah. Dia membantah keras anggapan bahwa militer AS nyaris kehabisan rudal untuk menghadapi berbagai konflik.
"AS memiliki 'amunisi' dalam jumlah besar, terutama jenis tertentu. Selain itu, sejumlah besar amunisi lainnya sedang diproduksi dan dikirim sesuai kebutuhan," katanya.
Sebelumnya, surat kabar The Washington Post mengutip sejumlah pejabat AS yang menyebut Trump meminta penjelasan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengenai stok rudal yang semakin menipis. Permintaan itu disebut disampaikan dalam rapat kabinet di Camp David pada awal pekan ini.
Namun, laporan tersebut langsung dibantah Gedung Putih. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut pemberitaan itu tidak benar dan menegaskan informasi mengenai menipisnya persediaan rudal AS keliru.
Di sisi lain, pada 24 Juni lalu Gedung Putih telah mendesak Kongres untuk menyetujui tambahan anggaran sebesar 87,6 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, sekitar 67,15 miliar dolar dialokasikan untuk Pentagon, dengan sebagian besar anggaran digunakan membiayai perang melawan Iran.
Meski demikian, lembaga think tank Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) sebelumnya memperkirakan militer AS telah menghabiskan lebih dari 1.500 rudal sistem pertahanan udara Patriot dan sekitar 200 rudal pencegat untuk sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Kondisi itu dinilai memicu kekurangan rudal yang cukup signifikan.
CSIS juga menyebut sekitar 80 persen stok rudal THAAD digunakan selama perang melawan Iran, sementara persediaan rudal Patriot telah berkurang hingga sekitar 50 persen.Postamble: Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih provokatif untuk SEO atau gaya khas portal berita online.










