6 Negara Tetap Dukung Gianni Infantino Jadi Presiden FIFA, Indonesia Termasuk?
LONDON, iNews.id - Gianni Infantino menghadapi ancaman serius menjelang pemilihan Presiden FIFA setelah sejumlah negara menarik dukungan. Tapi ada enam negara masih dilaporkan mendukung dia untuk kembali memimpin badan sepak bola dunia tersebut.
Qatar dan Uni Emirat Arab disebut menjadi dua negara utama yang masih berada di belakang Infantino. Selain kedua negara tersebut, Bhutan, Sri Lanka, Lebanon, dan Kuwait juga dilaporkan mendukung pria berusia 56 tahun itu.
Posisi Infantino menjadi sorotan setelah rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan pada sejumlah turnamen besar, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta mendapat penolakan besar. Rencana tersebut akhirnya gagal berjalan setelah menghadapi tekanan dan kritik.
Situasi tersebut membuat dukungan terhadap Infantino mulai berubah. UEFA menyatakan kehilangan kepercayaan kepada Infantino bersama sejumlah pihak lain dalam keluarga sepak bola. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) juga menyatakan dukungan terhadap sikap UEFA.
"Itu sudah waktunya untuk melakukan tinjauan penuh dan kuat terhadap kepemimpinan serta tata kelola FIFA untuk memastikan sepak bola dunia dijalankan secara transparan, demi kepentingan seluruh 211 negara anggota dan dengan pengelolaan sepak bola jangka panjang sebagai prioritas," kata FA.
Sejumlah negara yang sebelumnya mendukung Infantino juga disebut telah menarik dukungan. Wales, Serbia, Swedia, Finlandia, dan Inggris masuk dalam daftar negara yang tidak lagi memberikan dukungan kepada Presiden FIFA tersebut.
Perebutan Kursi Presiden FIFA Makin Panas
Infantino sendiri masih memiliki modal besar untuk menghadapi pemilihan berikutnya. Bulan lalu, lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA dilaporkan secara resmi memberikan dukungan terhadap pencalonannya untuk periode keempat.
Sebelum rencana penjualan sebagian kepemilikan turnamen FIFA memicu kontroversi, Infantino diprediksi mampu memenangkan pemilihan dengan selisih suara besar. Namun, perkembangan terbaru membuat masa depannya menjadi jauh lebih sulit dipastikan.
Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung pada Maret tahun depan. Sebanyak 211 asosiasi anggota FIFA akan memberikan suara melalui pemungutan suara rahasia.
Statuta FIFA menetapkan calon membutuhkan lebih dari 50 persen suara jika hanya terdapat dua kandidat. Dengan jumlah 211 asosiasi anggota, kandidat membutuhkan sedikitnya 106 suara untuk mengamankan kemenangan.
Ancaman terhadap posisi Infantino tidak hanya datang dari pemilihan. Statuta FIFA memungkinkan 20 persen anggota atau 43 negara menggelar Kongres FIFA darurat. Forum tersebut dapat digunakan untuk mengajukan pemungutan suara mengenai pemberhentian presiden.
Opsi lain tersedia melalui mekanisme etik FIFA. Komite etik dapat melakukan penyelidikan jika presiden diduga melanggar kode etik berdasarkan pengaduan resmi dari anggota atau pejabat.
Komite etik juga memiliki kewenangan memberikan sanksi, termasuk larangan jangka panjang dari aktivitas sepak bola. Namun, dengan belum terlihatnya pelanggaran etik yang jelas dalam situasi saat ini, jalur tersebut dinilai kecil kemungkinan digunakan.
Jalan paling nyata untuk mengganti Infantino tetap melalui pemilihan. Jika mayoritas kongres memilih kandidat lain pada Maret mendatang, Infantino akan kehilangan kursi Presiden FIFA setelah masa kepemimpinannya sejak 2016.
Persaingan juga berpotensi semakin sengit karena sejumlah nama mulai dikaitkan dengan pemilihan tersebut. Presiden CONCACAF Victor Montagliani dilaporkan tertarik maju sebagai kandidat.
Selain Montagliani, Presiden Paris Saint-Germain Nasser Al-Khelaifi juga disebut sebagai salah satu kandidat potensial. Nama lain yang muncul adalah Mattias Grafstrom, Sekretaris Jenderal FIFA.
Dengan dukungan yang mulai terpecah dan sejumlah kandidat potensial bermunculan, posisi Infantino menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 kini tidak lagi sekuat prediksi sebelumnya. Enam negara memang masih mendukung dia, tetapi pertarungan untuk mengamankan sedikitnya 106 suara akan menjadi ujian besar.










