BPS Sebut Implementasi B50 Bisa Pengaruhi Ekspor CPO di Semester II 2026

BPS Sebut Implementasi B50 Bisa Pengaruhi Ekspor CPO di Semester II 2026

Terkini | inews | Senin, 3 Agustus 2026 - 15:46
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya (HS 1511) tetap tumbuh sepanjang Semester I 2026. Meski demikian, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menuturkan, nilai ekspor CPO pada semester I 2026 tumbuh sebesar 7,32 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Semester I 2025 yang mencapai 24,80 persen.

"Ini artinya nilai ekspor CPO pada semester I masih mengalami kenaikan ya. Jika pertumbuhannya dibandingkan dengan semester I tahun 2025, maka pertumbuhan pada semester I tahun 2026 mengalami perlambatan. Jadi, kalau tadinya tumbuh cepat, sekarang tumbuh di bawahnya, sama-sama tumbuh tetapi tumbuhnya mengalami perlambatan," ujar Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Terkait kebijakan mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang mulai diimplementasikan pada Juli 2026, BPS menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi volume ekspor produk kelapa sawit Indonesia, khususnya pada paruh kedua tahun ini.

Meski demikian, BPS belum memberikan estimasi kuantitatif mengenai besarnya potensi penurunan ekspor dan menekankan pentingnya pengkajian lebih lanjut berdasarkan data realisasi.

"Namun untuk yang penerapan B50 yang akan dimulai kita tahu bersama pada bulan Juli 2026, ini cenderung ya, cenderung berpotensi akan mempengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia, khususnya nanti pada semester 2 di tahun 2026," kata dia.

Dia menambahkan, dampak pasti penerapan B50 akan bergantung pada sejumlah variabel industri.

"Seberapa banyak pengaruhnya kita tunggu saja nanti pada rilis berikutnya. Hal ini tentunya perlu untuk dikaji ya lebih lanjut, antara lain ini melibatkan berbagai informasi seperti produksi dan persediaan minyak sawitnya. Kemudian juga bagaimana peningkatan untuk yang permintaan atau demand di dalam negerinya, serta juga harga minyak sawit di domestik dan juga di internasional," tuturnya.

Untuk memantau dampak penerapan B50 sekaligus ancaman fenomena iklim El Nino terhadap industri kelapa sawit nasional, BPS memetakan sejumlah indikator utama yang perlu terus dicermati oleh pelaku pasar dan pemangku kepentingan.

Indikator tersebut meliputi produksi tandan buah segar (TBS) beserta tingkat produktivitasnya, total produksi minyak sawit, penyerapan domestik untuk program biodiesel, tingkat persediaan, hingga perkembangan harga minyak sawit di pasar domestik dan internasional.

"Kemudian juga produksi minyak sawit tentunya. Yang berikutnya bagaimana serapannya untuk domestik ya, terutama untuk yang biodiesel-nya. Dan kemudian bagaimana untuk yang tadi stok atau persediaan akhirnya, serta harga minyak sawit, ini harganya ya, baik di domestik ataupun yang di internasional," ucap Ateng.

Topik Menarik