KPI Usul BPS Gandeng Media Sosialisasikan Sensus Ekonomi 2026, Cegah Hoaks
JAKARTA, iNews.id - Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Tulus Santoso merespons berbagai penolakan masyarakat terhadap Sensus Ekonomi 2026. Dia menilai fenomena itu muncul akibat kurang maksimalnya komunikasi publik oleh penyelenggara sensus.
Menurut dia, minimnya sosialisasi membuat rasa khawatir masyarakat makin berlebih atas sensus tersebut, belum lagi kondisi itu ikut diperkeruh berita hoaks yang beredar di media sosial. Padahal, keberadaan lembaga penyiaran seperti TV dan radio dapat membantu penyelenggara menyosialisasikan pesan tentang pentingnya sensus tersebut ke masyarakat.
“Keberhasilan sensus tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan, tetapi juga pada keberhasilan komunikasi publik. Semakin baik lembaga penyiaran memberikan edukasi, semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat untuk disensus. Kasus ini bisa mencontoh apa yang dilakukan penyelenggara Pemilu lalu melalui sosialisasi yang masif di lembaga penyiaran,” kata Tulus dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
Dia mengatakan sosialisasi penting dilakukan untuk memastikan kepercayaan masyarakat terhadap program sensus tersebut.
“Masyarakat perlu mengetahui bagaimana mengenali petugas resmi, memahami tujuan sensus, serta menyadari bahwa data yang diberikan dijamin kerahasiaannya,” ucap dia.
Tulus mengusulkan pemerintah, dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS), untuk melibatkan lembaga penyiaran untuk menyukseskan program sensus tersebut.
“Jumlah lembaga penyiaran di Indonesia ada ribuan. Selain itu, jangkauannya bisa sampai daerah-daerah dan media ini masih menjadi sumber informasi terpercaya bagi masyarakat,” tutur dia.
Menurut dia, beberapa model sosialisasi yang efektif melalui lembaga penyiaran bisa dalam bentuk iklan layanan masyarakat (ILM), program talkshow, bahkan disisipkan dalam program hiburan.
“Jika pesan-pesan sensus ini dilakukan secara gencar melalui improvisasi dan kreativitas media penyiaran tentunya akan mudah diterima masyarakat. Masyarakat jadi memahami dan akan menerima petugas sensus di rumahnya,” ujar Tulus.
Tulus menekankan data yang berkualitas hanya dapat lahir dari informasi yang berkualitas. Karena itu, dia menilai media penyiaran memegang peran penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap Sensus Ekonomi 2026.
“Partisipasi masyarakat dimulai dari pemahaman. Dan pemahaman dibangun melalui informasi yang benar, berimbang, dan mudah dipahami. Sehingga kolaborasi antara media dan penyelenggara sensus menjadi sangat penting” tutupnya.









