Sering Ganti Ukuran Kacamata? Dokter Peringatkan Bisa Jadi Tanda Mata Bermasalah

Sering Ganti Ukuran Kacamata? Dokter Peringatkan Bisa Jadi Tanda Mata Bermasalah

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 31 Juli 2026 - 20:31
share

JAKARTA, iNews.id – Banyak orang menganggap perubahan ukuran minus atau silinder sebagai hal yang normal. Tak sedikit yang langsung mengganti kacamata baru tanpa mencari tahu penyebab di balik perubahan tersebut.

Padahal, ukuran kacamata yang terus berubah dalam waktu singkat bisa menjadi tanda adanya gangguan pada kornea yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), mengatakan perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan berbagai kelainan refraksi, mulai dari rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), hingga astigmatisme atau mata silinder.

"Perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan kelainan refraksi seperti miopia, hipermetropia, serta astigmatisme. Pada astigmatisme tidak teratur, cahaya dapat tersebar ke beberapa titik sehingga menimbulkan pandangan berbayang, distorsi, silau, dan halo," ujar dr. Sharita.

Dia menjelaskan, masyarakat perlu waspada apabila ukuran minus atau silinder bertambah dengan cepat. Terlebih jika penglihatan tetap buram meski sudah menggunakan kacamata dengan resep terbaru.

Selain itu, munculnya silau atau lingkaran cahaya (halo) saat melihat lampu pada malam hari juga dapat menjadi tanda adanya kelainan pada kornea. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi kualitas penglihatan jika tidak segera ditangani.

Menurut dr. Sharita, kebiasaan sering mengucek mata serta adanya riwayat keratokonus dalam keluarga juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Orang dengan kondisi tersebut disarankan menjalani pemeriksaan mata secara menyeluruh agar penyebab gangguan penglihatan dapat diketahui sejak dini.

Dia menegaskan, setiap kondisi mata memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan. Karena itu, pemeriksaan komprehensif menjadi langkah penting sebelum menentukan metode koreksi penglihatan yang paling sesuai.

Pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran minus dan silinder, pemetaan bentuk serta ketebalan kornea, pemeriksaan lapisan air mata, tekanan bola mata, ukuran pupil, retina, hingga evaluasi kesehatan mata secara keseluruhan.

"Ketajaman penglihatan bukan hanya tentang terbebas dari kacamata, tetapi tentang mendapatkan kualitas penglihatan yang optimal melalui pilihan penanganan yang sesuai. Karena kondisi setiap mata berbeda, keputusan tindakan harus selalu diawali dengan pemeriksaan komprehensif dan diskusi bersama dokter spesialis mata," katanya.

Dokter mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan penggantian kacamata setiap kali ukuran minus berubah. Pemeriksaan mata secara menyeluruh dapat membantu mendeteksi penyebab gangguan penglihatan lebih awal sehingga penanganan yang diberikan menjadi lebih tepat dan efektif.

Topik Menarik